Belakangan ini, tak sedikit lowongan kerja “menyesatkan”. Ini bukan recruitment scam atau fraud, pengunggah lowongan kerja dari perusahaan yang terdaftar secara hukum dan membutuhkan calon karyawan. Apa yang membuat informasi tersebut menyesatkan?
Ketika sebuah lowongan menuliskan tunjangan hari raya (THR) serta BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan sebagai manfaat atau fasilitas tambahan yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan. Sebagai HR dan/atau perekrut, jangan sampai Anda mengunggah lowongan kerja menyesatkan seperti itu.
Ruang Lingkup Lowongan Kerja: Apa Saja Informasi yang Ada di Sana?
Informasi lowongan kerja merupakan interaksi pertama antara perusahaan dengan calon karyawan. Tentu, ini adalah cara perusahaan untuk mencari kandidat terbaik yang paling sesuai dengan kebutuhan serta nilai perusahaan.
Sebagai HR, talent acquisition, atau perekrut, Anda sudah mengetahui tentang informasi apa saja yang harus tercantum di lowongan kerja. Misalnya, nama peran yang dibutuhkan, tanggung jawab kerja kualifikasi, nama, alamat, sedikit informasi tentang perusahaan, serta cara pengiriman CV.
Informasi tersebut tak hanya mengunggah posisi yang tersedia, tetapi juga menggambarkan budaya perusahaan. Bahkan ini lebih mencerminkan sikap perusahaan terhadap apresiasi karyawan daripada halaman karier atau kampanye jenama milik perusahaan. Namun, tak sedikit perusahaan mengirimkan sinyal yang salah kepada kandidat.
Menurut Chris Britton, People Experience Director di Reward Gateway | Edenred, menjelaskan bahwa satu dari lima unggahan lowongan pekerjaan menyamarkan hak-hak dasar hukum sebagai benefits. Benefits merujuk kepada manfaat atau fasilitas nontunai.
Dalam penelitian Reward Gateway | Edenred, 17% dari lowongan pekerjaan yang menuliskan tentang gaji, sementara itu, hampir sepertiganya tidak memberikan informasi gaji sama sekali.
Berdasarkan penelitian EduBirdie, layanan penulisan esai, menunjukkan 58% Gen Z tidak akan melamar pekerjaan bila lowongan kerja tidak mencantumkan perkiraan gaji. Sebesar 71% pekerja muda percaya bahwa pembahasan tentang gaji harus dilakukan.
Hasil tersebut memperlihatkan pekerja Gen Z memprioritaskan transparansi gaji. Jadi, mereka memastikan bahwa perusahaan telah membayar karyawan secara adil. Menuliskan informasi gaji di lowongan kerja telah menjadi peraturan di negara-negara Eropa dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat juga menerapkan hal serupa.
Artikel terkait: Recruitment Scam: Kenali dan Lindungi Perusahaan dari Penipuan
Kehadiran Lowongan Kerja Menyesatkan
Ketika terdapat unggahan job ads yang mencantumkan BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan serta THR sebagai manfaat dan/atau tunjangan yang akan diterima oleh karyawan, saat itulah kita dapat menyebutnya sebagai lowongan kerja menyesatkan.
Hal itu bukan sebagai kemurahan hati, tetapi informasi keliru karena pemberian BPJS dan THR adalah bentuk kewajiban perusahaan kepada karyawan yang telah diatur dalam undang-undang.
Red flags perusahaaan
Jika perusahaan menekankan hak dasar sebagai manfaat dan/atau tunjangan, ini adalah tanda red flag yang akan dicatat oleh pencari kerja. Hal tersebut telah melanggar regulasi pemerintah. Bila mereka memiliki keterampilan dan pengalaman yang mendukung perusahaan, ada kemungkinan mereka enggan melamar pekerjaan atau menolak tawaran Anda.
Kalaupun mereka menyetujui mereka bersedia mengikuti proses rekrutmen, setelah Anda menjelaskan detail peran yang sedang dibuka, bukan tak mungkin, mereka akan meng-ghosting Anda. Alasan mereka melakukan ghosting, antara lain:
- Pekerjaan tidak cocok untuknya
- Budaya perusahaan tidak cocok
- Tawaran gaji tidak mencukupi
- Manfaat yang diberikan kurang memadai
Semua alasan itu menunjukkan ketidaksesuaian yang seharusnya dapat dihindari dalam job ads atau unggahan lowongan kerja sejak awal.
Dalam tunjangan, perusahaan dapat memberikan hal yang lebih bermakna dan dibutuhkan oleh karyawan. Sebut saja, pengaturan model kerja hibrida atau jarak jauh atau jam kerja fleksibel yang banyak diminati oleh tenaga kerja terkini.
Pandangan sempit tentang apresiasi
Penyebab masalah ini adalah perusahaan memiliki pandangan sempit tentang apresiasi. Seharusnya, mereka menganggap karyawan sebagai aset berharga, bukan hanya hubungan transaksional dan tidak memahami tentang regulasi ketenagakerjaan.
Bagi kandidat yang belum familiar dengan budaya perusahaan pada proses rekrutmen, hal tersebut akan dianggap positif oleh mereka. Dalam perjalanannya, mereka akan menyadari ada kesalahan dari internal dan memutuskan untuk mengundurkan diri tak Anda sadari. Kondisi tersebut dapat menurunkan moral maupun produktivitas perusahaan secara menyeluruh.
Bagi karyawan, mendapatkan apresiasi atau penghargaan atas kerja keras menjadi motivator penting. Mengingat biaya yang membebani anggaran perusahaan semakin melonjak–perilaku ini tidak dibenarkan–maka tidak mengherankan jika di antara mereka membuat kewajiban yang harus mereka lakukan sebagai manfaat karyawan.
Baca juga: Kiat Membuat Job Ads Lugas & Tanpa Diskriminasi
7 Poin agar HR Tidak Menulis Lowongan Kerja Menyesatkan
Mengubah pola pikir agar tidak menulis lowongan kerja menyesatkan tidaklah mudah, tetapi bukan berarti hal ini tidak bisa dilakukan. Anda dan tim dapat mengutamakan empati dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang bisa lebih baik bagi bisnis.
Bagaimana cara terbaik departemen atau Tim membuat lowongan kerja sesuai kebutuhan, mematuhi regulasi, menghargai calon karyawan, sekaligus menggambarkan budaya perusahaan?
1. Pahami regulasi
Tim HR dan manajemen harus memahami regulasi tentang ketenagakerjaan, seperti pemberian BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan, THR, upah minimum, cuti tahunan, uang lembur, hingga jam kerja. Jadikan informasi tersebut sebagai bekal menyusun info lowongan pekerjaan agar tidak menyesatkan pemahaman kandidat.
2. Employer branding
Manfaatkan akun media sosial perusahaan untuk melakukan strategi employer branding. Ajak pula karyawan untuk berkolaborasi membuat konten tentang pengalaman mereka bekerja di perusahaan ini. Langkah ini dapat menarik kandidat unggulan sekaligus mengapresiasi kinerja sehingga dapat meretensi mereka.
Anda juga bisa menuliskan budaya perusahaan pada kolom profil perusahaan–tersedia dalam situs pencarian kerja, seperti Jobstreet, LinkedIn, atau Glassdoor–sehingga calon pelamar dapat membaca informasi singkat tentang perusahaan sebelum mengirimkan CV.
3. Tanpa diskriminasi
Cek info lowongan pekerjaan berulang kali sebelum mengunggahnya dan lakukan dengan melibatkan tim lain. Sebaiknya, hindari membuat informasi yang mendiskriminasi tetapi tetap lugas. Misalnya, tidak mencantumkan batasan usia, suku, kebangsaan, agama, jenis kelamin, dan status pernikahan.
4. Tulis info gaji
Salah satu unsur info lowongan kerja yang paling menarik adalah berterus terang tentang gaji dan tunjangan. Tulis yang jelas dan spesifik, seperti gaji yang akan diterima Rp8,000,000 hingga Rp10,000,000. Jika perusahaan Anda memposisikan diri sebagai organisasi yang mengutamakan transparansi, maka hal ini harus tercermin dalam cara berkomunikasi pada setiap tahap rekrutmen, termasuk penyusunan lowongan pekerjaan.
5. Penawaran perusahaan
Tak ada salahnya untuk menulis apa yang ditawarkan oleh perusahaan kepada karyawan, sehingga kandidat mengerti seperti apa dan bagaimana bekerja di perusahaan Anda dengan dukungan dari manajemen.
Contohnya, perusahaan memberikan program pelatihan setiap semester atau ekspektasi yang diharapkan serta pemberian pelatihan keterampilan kepada karyawan baru. Upaya ini tak hanya mendukung pertumbuhan karyawan, juga memperkuat perusahaan secara keseluruhan.
6. Hindari kalimat berlebihan
Ya, menghindari kalimat berlebihan harus dilakukan oleh pembuat info lowongan pekerjaan, baik dari sisi perekrut maupun manajer. Britton menyarankan info seharusnya menjawab pertanyaan yang dipedulikan oleh kandidat, seperti budaya kerja, dukungan dari manajemen kepada anggota baru, alur kerja tim, dan/atau praktik pemberian apresiasi.
7. Latih manajer
Poin ini tak terlihat di lowongan kerja, tetapi akan dirasakan oleh karyawan baru saat pertama kali mereka berinteraksi dengan manajer dan rekan setim. Sebaiknya, perusahaan melatih manajer atau pemimpin tim untuk memberikan apresiasi kepada karyawan.
Apresiasi yang tulus harus menjadi bagian dari interaksi sehari-hari. Ini akan menjadi cara perusahaan untuk membentuk budaya yang secara konsisten menghargai karyawan sebagai manusia, bukan hanya sebagai kontributor terhadap hasil produksi.
Artikel selanjutnya: Tim HR Perlu Memahami Career Minimalism dari Pekerja Muda
Informasi lowongan kerja menyesatkan atau tidak jelas menciptakan kesenjangan ekspektasi yang dapat merusak keterlibatan, meningkatkan pergantian karyawan, dan menaikkan biaya rekrutmen.
Kandidat tidak mencari informasi lowongan yang sempurna, tetapi mereka mencari pesan yang kredibel. Jadi, tulis informasi secara jujur, spesifik, dan berfokus pada hal yang dihargai oleh kandidat sekaligus sesuai kebutuhan perusahaan.

Leave a Reply