Selain kemampuan menyaring CV dan mewawancarai kandidat, tim HR atau perekrut perlu mengendus kebohongan dalam proses rekrutmen. Dalam dinamika rekrutmen, menangkap kebohongan seseorang tidak selalu semudah atau sejelas yang Anda kira.
Tak jarang, Anda memerlukan alat tambahan untuk memverifikasinya. Jika itu diperlukan, Anda dapat melakukannya terlebih pada posisi dan industri yang riskan dengan penipuan atau kecurangan. Ikuti kiat menangkap kebohongan dalam proses rekrutmen dari mantan analis CIA.
Tak Mudah tetapi Bukan Tak Mungkin Membongkar Kebohongan dalam Proses Rekrutmen
Rupal Patel, yang pernah bekerja sebagai analis CIA mengatakan bahwa membaca karakter seseorang dan menempatkannya dalam proses rekrutmen yang kompleks tidaklah mudah. Tak ada respons fisik yang berhubungan dengan kebohongan.
Dalam wawancara kerja, ada kandidat yang lebih gugup daripada yang lain, padahal mereka tidak melakukan kesalahan, tetapi ada pula yang bersikap tenang tetapi mereka sudah sering melakukan penyalahgunaan wewenang atau penggelapan dana. Sikap seseorang saat sesi tidak bisa dijadikan patokan utama dalam penilaian.
Itulah mengapa tes poligraf tidak dapat diterima di pengadilan.
Tes poligraf ialah prosedur pemeriksaan menggunakan alat (lie detector) yang merekam indikator fisiologis, seperti tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan konduktivitas kulit, saat seseorang menjawab pertanyaan untuk mendeteksi kejujuran. Kecemasan, ketakutan, dan kegugupan semuanya dapat menyebabkan hasil positif palsu dalam tes poligraf.
Baca juga: 7 Interview Toolkit Tim HR untuk Tingkatkan Ketepatan Rekrutmen
Bagaimana Mengendus Kebohongan dalam Proses Rekrutmen? Ini 4 Kiatnya
Jika alat pendeteksi kebohongan tidak dapat mendeteksi kebohongan dan mengendus tanda-tanda kandidat pembohong, lalu bagaimana menangkap kebohongan dalam proses rekrutmen?
1. Percaya, tetapi verifikasi
Pendiri dan CEO of the Global Leadership Lab ini mengingat motto di tempat kerja lamanya, yakni, “Percaya, tetapi verifikasi” untuk membangun gambaran lengkap tentang kredibilitas seseorang.
Anda perlu mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, jangan hanya dari CV-nya saja, dan memantau perilaku serta keterampilannya. Verifikasi perlu dilakukan sebelum Anda mewawancarai kandidat, jangan melakukannya setelah mengirimkan offering letter. Misalnya, Anda mengumpulkan informasi kandidat dari media sosial, PDDikti, tempat kerja sebelumnya, rekan kerja, jaringan kerja, lalu membangun profil yang bersangkutan.
Langkah ini dapat Anda lakukan pada hal pribadi maupun profesional. Anda bisa memulai dengan tingkat kepercayaan dasar, kemudian mengevaluasi mereka secara berkala.
2. Berhenti sejenak dan evaluasi
Kita tidak selalu punya waktu untuk memverifikasi kepercayaan seseorang melalui berbagai interaksi, karena terkadang kita harus membuat keputusan sekali waktu. Tanpa waktu panjang atau berhari-hari, Anda pun tetap bisa mengumpulkan informasi penting saat itu juga dengan mengajukan pertanyaan ini kepada diri sendiri:
- Apa hal terburuk yang bisa terjadi jika orang ini berbohong?
- Apakah mereka menciptakan rasa mendesak yang palsu?
- Apakah ini harga yang harus saya bayar bila saya membuat keputusan yang salah?
- Apakah orang ini memiliki motif tersembunyi yang menguntungkan dirinya sendiri dengan mengorbankan saya?
- Apakah mereka adalah ahli memiliki kualifikasi atau pengalaman yang relevan tentang topik ini?
- Bisakah saya memverifikasi atau membantah apa yang mereka katakan secara objektif?
Jangan biarkan agenda orang lain memaksa Anda untuk mengambil keputusan cepat yang tidak sesuai dengan kepentingan perusahaan.
Referensi artikel: Perekrut Perlu Tahu 3 Tanda Pencari Kerja Red Flags
3. Mulai dari hal kecil
Ketika Anda tidak dapat menentukan apakah seorang kandidat dapat dipercaya atau tidak, maka strategi yang dapat dilakukan adalah bergerak perlahan dan mulai dari hal kecil. Contohnya:
- Hiring manager membutuhkan anggota tim dan seorang kandidat dinyatakan telah sesuai kebutuhan bisnis
- Manajer meminta Anda untuk memprosesnya sebagai karyawan baru secepatnya
- Anda dan tim memverifikasi beberapa hal, tetapi menemukan kejanggalan, di mana kandidat mengatakan alasan mengundurkan diri di perusahaan sebelumnya karena PHK, tetapi tim Anda mengatakan bahwa perusahaan tersebut tidak mengumumkan PHK secara terbuka
- Jadi, Anda mengonfirmasi ke tim HR di tempat kerja kandidat sebelumnya, tetapi belum mendapatkan jawaban padahal kebutuhan manajer terhadap karyawan cukup mendesak
- Solusinya, perusahaan menawarkan pekerjaan ke kandidat sebagai karyawan kontrak selama satu tahun
- Jika karyawan memiliki kinerja baik dan tidak terindikasi berbohong pada tempat kerja sebelumnya, maka ia akan diterima sebagai karyawan tetap
4. Jangan takut mengatakan tidak
Jika Anda masih ragu apakah seseorang berbohong dan tidak bisa menggunakan tiga strategi pertama di atas, maka hal terbaik yang dapat dilakukan adalah mengatakan tidak. Artinya, perusahaan tidak bisa melanjutkan proses rekrutmen dengan kandidat.
Anda bisa saja memiliki dasar kepercayaan kepada orang lain, tetapi juga tidak boleh mudah percaya apa yang ditulis dan dikatakan oleh kandidat tentang diri mereka. Anda dapat mengadakan wawancara, memberikan skill test, hingga melakukan background check.
Bahkan bila perusahaan mempunyai sumber daya lebih, tim HR bisa manfaatkan jasa skor kredit untuk mengetahui tanggung jawab dalam pengelolaan keuangan. Biasanya, upaya tersebut dilakukan pada posisi dan/atau peran industri tertentu.

Leave a Reply