Di tengah kelesuan dunia usaha, ada perusahaan yang merekrut lebih banyak karyawan. Hasilnya, pertumbuhan pendapatan mereka jauh lebih baik dibandingkan perusahaan yang tidak menambah karyawan. Bahkan pengurangan karyawan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan semata efek dari artificial intelligence (AI). Langkah tersebut transformasi perusahaan yang berhubungan operasional.
Berbagai Perusahaan Melakukan PHK di 2026
Pertengahan 2026, beberapa perusahaan di Amerika Serikat (AS) mengumumkan PHK kepada karyawan. Mereka adalah Amazon, UPS, HP, dan Verizon. Alasan mereka mem-PHK karyawan di antaranya untuk memangkas biaya operasional, mengurangi biaya tenaga kerja karena merekrut lebih banyak karyawan pada era pandemi COVID-19, serta beradaptasi dengan perkembangan AI.
Setelah menempuh PHK, perusahaan mengadopsi model operasi yang lebih ramping dan merestrukturisasi bisnis mereka agar tetap kompetitif di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. Namun, apa pun alasannya, keputusan PHK diambil guna memaksimalkan keuntungan perusahaan.
“Analisis kami menunjukkan ada perubahan besar dalam jumlah karyawan di perusahaan-perusahaan besar di Amerika dan restrukturisasi perusahaan telah meningkat dalam biaya dan cakupan selama empat tahun terakhir,” ujar Steve Kelly, wakil presiden pertumbuhan pengguna dan komunitas di Orgvue.
Baca juga: 4 Cara Mengendus Kebohongan dalam Proses Rekrutmen dari Agen Rahasia
5 Fakta tentang Merekrut Lebih Banyak Karyawan Dapat Mendorong Pertumbuhan Perusahaan
Orgvue, perusahaan perangkat lunak berbasis cloud, menganalisis laporan tahunan 10-K dari 475 perusahaan yang masuk daftar Fortune 500 Juni 2026. Mereka menemukan bahwa perusahaan yang berinvestasi terhadap human capital menjadi jalur pertumbuhan yang paling andal dan berkelanjutan. Hal itu terlepas dari pernyataan perusahaan, “Doing more with less.”
Data menunjukkan, perusahaan terus merekrut lebih banyak karyawan secara bertahap tahun lalu dapat mendorong pertumbuhan perusahaan. Faktanya, mereka yang mendongkrak pertumbuhan pendapatan dengan pengurangan jumlah karyawan tidak mampu mempertahankan upaya tersebut selama lebih dari satu tahun.
Untuk lebih memahami kondisi ini, pemimpin, tim HR dan pembuat keputusan perlu mengetahui fakta dari laporan Orgvue berikut ini:
1) Perusahaan membutuhkan uang pesangon sangat besar
Perusahaan dalam daftar Fortune 500 telah menambah lebih dari 36.000 karyawan. Namun terlepas dari perubahan tersebut, jumlah karyawan masih jauh dari stabil. Sebanyak 52% perusahaan melaporkan restrukturisasi organisasi yang menelan biaya fantastis, yakni sebesar USD49,4 miliar untuk pesangon. Jika dikonversi ke dalam Rupiah (Rp17.901) setara dengan Rp884,35 triliun.
2) PHK bukan hanya karena AI
Data menunjukkan pendorong utama restrukturisasi atau PHK bukan hanya dari AI. Perusahaan melaporkan, penyebab PHK dari paling besar karena transformasi perusahaan (73%) yang berhubungan dengan perubahan operasional, pengurangan biaya, dan penyederhanaan perusahaan. Perusahaan yang melakukan PHK karena AI atau otomatisasi teknologi kurang dari 10% laporan.
3) Lebih banyak karyawan lebih menghasilkan
Perusahaan yang merekrut lebih banyak karyawan menghasilkan pertumbuhan pendapatan (40%) lebih baik daripada perusahaan yang meningkatkan pendapatan dengan mengurangi jumlah karyawan (23%).
Perusahaan yang berinvestasi dalam pertumbuhan sumber daya manusia (SDM) menghasilkan peningkatan pendapatan dua kali lipat (12,2%), dibandingkan dengan perusahaan yang memangkas tenaga kerja. Dengan SDM lebih sedikit, mereka hanya memetik pertumbuhan tahunan sebesar 6,8% dan usaha ini tidak berkelanjutan.
Ketika perusahaan berhasil melakukan lebih banyak hal dengan SDM terbatas, data menunjukkan hanya 7% yang mampu menghasilkan peningkatan pendapatan berturut-turut, tetapi mereka terus mengurangi jumlah karyawan. Perusahaan yang berhasil melakukannya selama tiga tahun hanya 2%.
Referensi artikel: 8 Tantangan HR dalam Kepatuhan: Strategi Menghindari Risiko Hukum dan Finansial
4) AI berisiko dalam bisnis
Tidak seperti yang digembar-gemborkan oleh pembicara teknologi bahwa AI bermanfaat bagi bisnis. Berdasarkan data, sebanyak 94% perusahaan Fortune 500 melaporkan AI sebagai risiko bisnis, meskipun risiko berbeda setiap perusahaan. Sebaliknya, 42% perusahaan menyebut AI sebagai sumber pendapatan dan 27% telah menerapkan AI dalam operasi internal tertentu.
5) Perusahaan teknologi merekrut lebih banyak karyawan
Sebagian besar perusahaan teknologi (59%) merekrut lebih banyak karyawan tahun lalu. Bahkan mereka mempekerjakan lebih banyak orang dibandingkan perusahaan industri lain di Fortune 500. Mereka juga mencatat tingkat pertumbuhan karyawan tertinggi, dengan menambah 105.000 orang.
Kelly menambahkan bahwa perusahaan yang unggul menyadari bahwa AI bermanfaat bagi tenaga kerja terkini dan mendatang. Mereka membutuhkan disiplin operasional, sehingga perusahaan bertindakan praktis memahami bagaimana pekerjaan dilakukan saat ini dan mengantisipasi dampak perubahan.
“Perusahaan mendesain ulang proses dan membentuk kembali peran, meningkatkan keterampilan, dan menempatkan kembali karyawan untuk mewujudkan perubahan transformasional tanpa hanya mengandalkan pengurangan.”
Bagaimana dengan perusahaan Anda?

Leave a Reply