Jika kantor Anda sedang menangani proyek besar dengan tenggat ketat, tak ada salahnya untuk mempekerjakan pekerja lepas atau freelancer. Di luar sana, ada banyak freelancer dengan berbagai keterampilan.
Namun, merekrut pekerja lepas yang tepat untuk bisnis Anda bisa menjadi tantangan, terutama ini adalah pekerjaan yang bisa dilakukan secara jarak jauh. Jadi, tim HR atau perekrut perlu memiliki kiat merekrut freelancer.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Merekrut Freelancer
Menurut data BPS, jumlah pekerja informal di Indonesia mencapai 87,74 juta orang pada Februari 2026. Angka ini setara dengan 59,42% dari total penduduk bekerja yang mencapai 147,67 juta orang.
Dengan kata lain, pekerja informal masih mendominasi dibandingkan pekerja formal yang tercatat sebanyak 59,93 juta orang atau 40,58%. Pekerja informal ini mencakup berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/pekerja keluarga/tidak dibayar, pekerja bebas, dan pekerja keluarga/tidak dibayar. Dari definisi tersebut freelancer tergolong pekerja informal.
Semakin banyak orang yang bekerja secara independen, semakin banyak pula perusahaan yang memilih freelancer. Bagi tim HR atau perekrut, bukan hal rumit memperoleh tenaga lepas, tetapi pilih mereka yang memiliki kualifikasi yang diperlukan oleh bisnis.
Menemukan freelancer yang tepat dapat mendukung tujuan bisnis perusahaan. Bahkan perusahaan dapat menghadirkan perspektif baru tanpa harus mempekerjakannya secara penuh waktu karena proyek berdurasi jangka pendek.
Baca juga: 4 Alasan Membuat Job Title Harus Jelas untuk Menarik Kandidat Berpotensi
8 Kiat Merekrut Freelancer yang Tepat Bagi Tim
Untuk merekrut freelancer, Anda bisa mengunggah job ads di laman karier perusahaan atau situs pencarian kerja. Cara lain adalah mencari mereka di platform pekerja lepas, seperti Upwork, Fastwork, atau Fiverr.
Berikut ini kiat merekrut freelancer:
1. Memiliki keterampilan yang dibutuhkan
Poin penting yang harus diperhatikan oleh perekrut adalah kandidat memiliki keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan oleh bisnis. Misalnya, perusahaan membutuhkan business development specialist, maka ia harus memiliki keterampilan:
- Meriset pasar berdasarkan bidang kerja
- Menciptakan peluang baru
- Membangun kemitraan strategis
- Memperluas jangkauan pasar
- Menggunakan alat digital guna menganalisis tren
- Mampu berkomunikasi dan negosiasi dengan baik
2. Lihat portofolio
Menurut Marcus Clarke, pendiri Searchant.co., meninjau portofolio kandidat dapat memberi Anda gambaran tentang pengalaman, keterampilan, dan gaya kerja mereka. Dari portofolio, Anda bisa melihat proyek yang telah mereka tangani.
Misalnya, freelancer full-stack development harus mampu menguasai bahasa pemrograman dan framework terkini, freelancer desainer grafis harus memiliki portofolio yang menunjukkan beragam gaya desain dan karya klien, dan freelancer digital marketing harus menyediakan studi kasus yang menyoroti hasil yang terukur dan ROI.
Jika memungkinkan, mintalah portofolio mereka dari enam hingga 12 bulan terakhir dan/atau referensi dari pemberi kerja sebelumnya. Bila kandidat hanya menawarkan portofolio yang sudah lebih dari dua tahun, maka ada kemungkinan mereka tidak aktif atau enggan memperlihatkan hasil karya terbaru.
3. Periksa ulasan freelancer
Platform pekerja lepas seperti Upwork dan Fiverr memudahkan calon pemberi kerja untuk melihat rekam jejak freelancer. Selain portofolio, Anda dapat membaca umpan balik klien, meninjau kontrak sebelumnya, dan mendapatkan gambaran tentang seberapa andal dan kolaboratif mereka.
Sebagai referensi, Anda dapat menyaring kandidat dengan tingkat penyelesaian di atas 90 persen, skor kepuasan klien 4,5 dari 5 atau lebih tinggi, dan waktu respons dalam 24 jam untuk pesan awal. Indikator itu menunjukkan mereka dapat memberikan pekerjaan berkualitas, berkomunikasi dengan baik, dan menghormati tenggat waktu.
4. Berkomunikasi sangat baik
Michael Hammelburger, CEO The Bottom Line Group, mengatakan bahwa komunikasi yang sangat penting bagi pekerja lepas, karena mereka akan berkolaborasi dan memberitahukan tentang kemajuan proyek secara rutin.
Anda dapat melihat keterampilan komunikasi mereka melalui sesi wawancara kerja, cara menjawab, mengajukan pertanyaan, dan mengetes dengan pertanyaan yang ambigu. Namun, kemampuan berkomunikasi ini juga harus didukung oleh saluran komunikasi yang jelas, waktu merespons, dan ketersediaan untuk pertemuan atau diskusi antara manajer dan freelancer.
Referensi artikel: Tim HR Perlu Memahami Career Minimalism dari Pekerja Muda
5. Gaya kerja selaras dengan tim
Kelsey Kloss, pendiri Kloss Creatives, menjelaskan tak ada satu pun cara kerja paling benar untuk menghasilkan tugas berkualitas. Beberapa pekerja lepas lebih menyukai otonomi penuh, sementara yang lain merasa lebih baik dengan pengecekan dan bimbingan rutin.
Jadi, kiat merekrut freelancer selanjutnya adalah bicarakan secara terbuka tentang harapan dan gaya kerja yang disukai oleh tim. Bila Anda tertarik dengan portofolio dan hasil wawancara, berikan satu proyek kecil untuk melihat gaya kerjanya sehingga manajer dan tim bisa menilai apakah alur kerja yang bersangkutan sesuai dengan proses kerja tim.
6. Memahami bisnis perusahaan
Ketika mempersilakan kandidat bertanya kepada pewawancara dan ia mengajukan pertanyaan yang menunjukkan pengetahuan tentang produk atau layanan perusahaan, maka itu adalah anda bahwa ia telah melakukan riset dan siap untuk bekerja dengan tim Anda. Freelancer yang menunjukkan minat terhadap bisnis akan menghubungkan pengalaman dan keterampilan kerjanya dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan.
7. Mampu mengikuti arahan
Kemandirian freelancer sangat penting, tetapi kemampuan untuk tetap mengikuti arahan juga tak kalah penting. Sebagai bagian dari proses rekrutmen, berikan kandidat tugas atau skill test untuk melihat seberapa cermat mereka mengikuti instruksi.
Di sini, manajer dapat menilai apakah mereka mengajukan pertanyaan yang jelas, seberapa baik mereka menyelesaikan tugas yang diminta, dan bagaimana hasil akhir tugasnya. Langkah sederhana ini guna mengidentifikasi kemampuan mengikuti arahan, sebelum berkomitmen pada proyek yang lebih besar.
8. Bersedia menandatangani kontrak
Seperti halnya kontrak kerja, freelancer juga memiliki perjanjian kerja berupa PKWT (perjanjian kerja waktu tertentu). Pastikan ia bersedia menandatangani kontrak kerja guna menjalankan kepatuhan bagi kedua belah pihak.
Di dalam kontrak, tim HR akan memperjelas ruang lingkup pekerjaan, tugas yang harus dikerjakan, berapa kali pengecekan hasil kerja dan revisi, ketentuan jika tenggat waktu tidak terpenuhi, durasi kerja, hingga ketetapan pembayaran, seperti upah per proyek dan tanggal pembayarannya.
Mempekerjakan freelancer bukan hanya tentang mengisi kekosongan, juga memajukan dan mencapai tujuan bisnis. Brent Osborn, konsultan di Off Square One LLC, menyarankan perekrut dan manajer bisnis memperjelas mengapa mereka menggunakan bantuan dari luar.
Jadi, memilih tenaga lepas yang tepat berarti mendukung bisnis perusahaan Anda.

Leave a Reply