HRPods pencari kerja red flags

Perekrut Perlu Tahu 3 Tanda Pencari Kerja Red Flags

Pencari kerja akan memperhatikan perusahaan yang memiliki reputasi buruk dalam memperlakukan karyawan, sebaliknya perekrut juga perlu tahu tanda-tanda pencari kerja red flags. 

Jadi, dalam proses rekrutmen, kedua belah pihak akan meneliti tanda hijau dan merah masing-masing. Hal ini untuk menghindarkan mereka terkena “jebakan” branding seseorang atau perusahaan yang terlihat keren di luar, tetapi kenyataannya jauh panggang dari api. 

Perekrut dan Pencari Kerja Saling Memperhatikan 

Baik perekrut maupun pencari kerja, keduanya saling memperhatikan saat tahap interview kerja. Pencari kerja akan memperhatikan bagaimana Anda memperlakukan mereka dalam sesi wawancara, karena perlakuan perekrut sedikit mencerminkan penampilan perusahaan. 

Berdasarkan Amanda Augustine, seorang pelatih karier dan pakar karier di Resume.ai, pencari kerja akan menilai bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan dengan rasa hormat atau tidak. 

Tidak peduli seberapa bagus pekerjaan itu terlihat di atas kertas, jika mereka merasa pengalaman wawancara dan proses rekrutmen tidak menyenangkan, maka kemungkinan besar perekrut tidak akan menerima pengalaman menyenangkan dari mereka. 

Sebagai perekrut atau HR, Anda perlu memperhatikan bagaimana Anda berinteraksi dengan pencari kerja. Bila Anda tidak memperhatikan sikap, ada kemungkinan mereka mengecap Anda dan perusahaan sebagai organisasi tidak profesional. 

Baca juga: 7 Tanda Anda Menemukan Kandidat yang Tepat

Perekrut, Ini 3 Tanda Pencari Kerja Red Flags 

Dalam tulisan CEO Profit Labs Eli Rubel di laman CNBC make it, ia menjelaskan bahwa ia telah melakukan kesalahan saat merekrut karyawan baru. Kesalahan tersebut tidaklah murah, karena Anda telah membuang waktu sekaligus menurunkan produktivitas tim. 

Rubel mengatakan bahwa banyak kandidat yang kurang cocok tetapi mereka terlihat hebat di atas kertas saja. Anda dapat mengetahuinya ketika wawancara kerja berlangsung. Jadi, perhatikan secara saksama jika terdapat red flags pada kandidat yang Anda sedang hadapi. 

1. Datang terlambat

Jika kandidat datang terlambat ke sesi wawancara kerja, biarpun itu satu menit, tetap saja ia terlambat. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan dari sisi Anda. Misalnya, apakah ia baru saja mengalami peristiwa darurat yang bisa terjadi kapan saja atau ia kurang mampu mengelola time management.

Seorang kandidat yang tidak tepat waktu dalam wawancara kerja, itu bisa menjadi pertanda bahaya. Mengapa? Karena ia kurang bisa mengatur waktu untuk diri sendiri, sehingga ini mengindikasikan bahwa ia juga tidak akan meluangkan waktu untuk klien, rekan setim, atau tenggat waktu pekerjaan. Di lingkungan kerja yang serba cepat dan berorientasi terhadap pelanggan, hal itu dapat menimbulkan masalah serius.

2. Kalimat indah tanpa substansi 

Ya, beberapa kandidat memiliki keterampilan berkomunikasi dengan baik. Kalimat yang mereka ucapkan terdengar lancar, percaya diri, dan cepat tanggap. Namun, ketika Anda mendengarkan dengan saksama, oembicaraan mereka tanpa substansi, seperti:

  • Omongan mereka tidak berakar pada pengalaman pribadi
  • Isi pembicaraan mereka tidak disertai contoh tugas kerja sebelumnya, matriks, atau detail lain

Dalam era AI, perusahaan menginginkan karyawan yang mampu menghadapi tantangan, memecahkan masalah, dan memberikan hasil, bukan hanya sekadar terdengar bagus saat berbicara. Misalnya, jika ia menyatakan dirinya adalah seseorang yang kolaboratif, maka mintalah kejelasan pada proyek apa ia melakukan kolaborasi antar tim, apa yang ia kerjakan, tantangan yang dihadapi, serta target dan hasil yang diperoleh. 

Artikel berikutnya: 7 Kiat Menjalankan Proses Rekrutmen Efisien dari Sisi Perusahaan dan Kandidat

3. Terlihat lesu 

Rubel yang juga memimpin SurveyGate ini juga mengatakan bahwa energi seseorang ialah salah satu sinyal yang paling penting. 

Mengingat wawancara kerja dapat menjadi sarana seseorang menampilkan performa terbaiknya, maka pencari kerja red flags akan tampil lesu. Hal itu menandakan apakah ia sedang sakit, merasa grogi, karakternya seperti itu, atau ia tidak antusias dengan sesi wawancara. Meski keterampilannya mumpuni, lalu Anda menerimanya kerja, apakah ia akan tampil bersemangat atau cocokkah ia dengan budaya perusahaan. 

Pada posisi tertentu yang harus berhadapan langsung dengan klien, vendor, atau lingkungan bertekanan tinggi, ada kemungkinan kandidat tidak lolos, kecuali ada tes lain yang membuktikan ia cocok dengan peran dan budaya perusahaan.

Sebaliknya, kandidat yang membawa antusiasme, rasa ingin tahu, dan kehadiran dalam percakapan jauh lebih mungkin berhasil daripada kandidat yang tampak lesu atau tidak terlibat. Dalam hal ini, perekrut juga perlu membuat suasana interview yang nyaman. Misalnya, memperhatikan suhu ruangan sejuk dan tertutup, menawarkan minuman, atau sekadar bertanya perjalanannya menuju lokasi kantor Anda. 

Dalam pengaturan wawancara kerja, perlakuan Anda terhadap kandidat berperan besar dalam reaksi emosional mereka dan reaksi ini akan berpengaruh kepada reputasi perusahaan. Bukan tak mungkin ia menceritakan pengalaman wawancara ke orang lain dan cerita tersebut bersambung ke pihak lain. 

Namun, bila Anda menemukan pencari kerja red flags ketika wawancara, saatnya Anda mencari kandidat lain atau manfaatkan jasa recruitment agency guna mendapatkan kandidat tepat sesuai dengan kebutuhan bisnis perusahaan. 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *