Ketika orang-orang mengagungkan sedang menangani tiga proyek, sehingga mereka harus bekerja lembur hingga dini hari dan keesokannya tetap datang ke kantor tepat waktu, ada kemungkinan mereka berada pada office cult.
Sah-sah saja, jika Anda dan rekan kerja berdedikasi dan bekerja total dalam pekerjaan. Upaya ini dilakukan tak sekadar menjalankan tugas sebaik-baiknya, juga mewujudkan kesuksesan karier di masa mendatang. Namun, garis batas antara budaya kerja yang produktif dan lingkungan kerja yang manipulatif kini semakin kabur.
Apa Itu Office Cult?
Office cult (corporate cult atau kultus korporat) merupakan budaya organisasi ekstrem yang menuntut pengabdian total dari karyawannya. Hal tersebut sering kali mengorbankan identitas pribadi, kehidupan keluarga, dan kesehatan mental karyawannya.
Office cult ini tumbuh subur di atas workism. Workism adalah keyakinan bahwa pekerjaan bukan lagi sekadar sarana untuk mencari nafkah atau memproduksi barang, melainkan pusat dari identitas seseorang, sumber utama dari tujuan hidup, dan wadah transendental untuk menemukan arti eksistensi diri.
Dalam office cult, perusahaan diposisikan sebagai keluarga utama serta visi dan misi CEO dianggap sebagai sabda yang tidak boleh dipertanyakan. Ada pula perusahaan yang memanipulasi karyawannya secara psikologis yang memperlakukan pekerjaan layaknya sebuah sekte atau kultus suci.
Baca juga: Fenomena Overwork: Antara Tuntutan Ekonomi, Beban Kerja, dan Tantangan Ketenagakerjaan
Perjalanan Workaholism hingga Office Cult dari Berbagai Negara
Pada abad ke-20, ekonom terkemuka seperti John Maynard Keynes memprediksi bahwa kemajuan teknologi dan peningkatan produktivitas pada abad ke-21 akan membuat manusia hanya perlu bekerja 15 jam saja dalam seminggu. Mereka membayangkan masa depan di mana manusia memiliki waktu luang yang melimpah untuk menikmati hidup, seni, dan keluarga.
Bermula dari kecanduan kerja
Namun, realitas yang terjadi justru sebaliknya, karena ini menandai workaholism alias kecanduan kerja. Di Amerika Serikat (AS), era 1980-an dan 1990-an menandai lahirnya budaya hustle di Wall Street dan Silicon Valley. Pekerjaan mulai bergeser dari kewajiban ekonomi menjadi status sosial.
Perusahaan teknologi raksasa mulai membangun kantor yang dilengkapi dengan makanan gratis, ruang tidur, pusat kebugaran, hingga layanan kesehatan. Fasilitas mewah ini sekilas terlihat memanjakan, tetapi fungsi utamanya adalah agar karyawan tidak perlu pulang dan tetap berada di dalam ekosistem kantor selama mungkin. Tak heran, ada perusahaan yang memanfaatkan situasi ini menjadi kultus korporat.
Loyalitas tanpa batas
Kondisi itu tak hanya terjadi di AS, juga di negara lain. Sebut saja fenomena karoshi di Jepang, di mana pekerja meninggal dunia secara tragis akibat kelelahan kerja yang ekstrem. Di Tiongkok terdapat sistem kerja tidak resmi, di mana karyawan diwajibkan bekerja dari pukul 09.00 sampai 21.00 selama enam hari dalam seminggu.
Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kultus ini sering kali dibungkus dengan narasi, “Loyalitas tanpa batas, demi keluarga besar perusahaan.” Karyawan yang pergi dan pulang tepat waktu akan dimanipulasi dengan rasa bersalah atau kurang bertanggung jawab.
Pandemi “mengekalkan” office cult
Pandemi COVID-19 pada 2020 memaksa semua orang mengadopsi sistem baru, tak terkecuali sistem kerja work from home (WFH). Karyawan dapat bekerja dari rumah untuk memutus mata rantai penularan virus korono, tetapi hal ini justru memperparah dan memperluas jangkauan office cult.
Ketika rumah berubah menjadi kantor, manajemen perusahaan kehilangan kendali langsung sehingga mengompensasi dengan tuntutan konektivitas tanpa batas dan jam kerja lebih lama, karena perusahaan menganggap karyawan tak perlu keluar rumah untuk bekerja.
Pandemi COVID-19 tidak menghapus office cult, tetapi melanggengkannya menjadi kultus digital yang menghantui ruang privat dan waktu istirahat karyawan secara konstan. Pada akhirnya, karyawan mengalami burnout atau quiet quitting.
Referensi artikel: 5 Langkah Membuat Strategi Retensi Karyawan dengan Job Architecture
Lima Tanda Anda Berada di Dalam Office Cult
Para peneliti menyoroti pada 1996 bahwa budaya perusahaan dapat berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial. Ini mirip seperti kultus atau sekte agama, di mana pengaruh rekan sebaya dan norma sosial digunakan untuk merekrut, mensosialisasikan, dan memberikan sense of direction kepada anggotanya.
Hal ini dapat menghasilkan koordinasi yang lebih baik dan kinerja yang lebih tinggi. Namun, proses yang sama dapat mengeksploitasi dan menyebabkan perilaku yang berbahaya atau tidak etis. Ini adalah tanda Anda masuk ke dalam perusahaan yang mempunya office cult yang kuat atau kultus korporat yang manipulatif:
1. Pemimpin karismatik
Apakah pemimpin Anda mempunyai visi luar biasa? Apakah mereka dikelilingi oleh lingkaran orang-orang loyal yang dipromosikan tanpa mempertimbangkan prestasi? Adakah pengkritik pemimpin yang dipinggirkan atau dihukum?
Jika jawabannya adalah YA, maka ada kemungkinan bahwa ia adalah pemimpin karismatik atau narsistik. Pemimpin ini akan memproyeksikan visi yang menginspirasi dan misi yang luar biasa. Sering kali, mereka adalah narsisis dengan memprioritaskan kekuasaan dan kepentingan diri sendiri sambil mengabaikan kebutuhan seluruh karyawan.
Bahkan ia tak segan menghukum anggota timnya yang tidak patuh. Akibatnya, karyawan menghadapi stres, frustrasi, komitmen menurun, atau enggan berbagi informasi karena takut akan hukuman.
2. Karyawan kurang beragam
Apakah perusahaan memperbolehkan karyawan bersuara? Apakah bisa menyatakan pendapat yang berbeda dari rekan kerja?
Perusahaan yang bersifat kultus kerap memaksakan budaya yang homogen, menuntut kesesuaian, dan menekan perbedaan pendapat. Mempertahankan orang-orang dengan pandangan dan perilaku sama adalah kunci dan aturan tersirat di perusahaan.
Sebaliknya, budaya perusahaan yang sehat akan memupuk keragaman, mendorong komunikasi terbuka dan perbedaan pendapat, serta mempromosikan individu untuk mengekspresikan keunikan mereka. Bila budaya tersebut berdiri kuat, perusahaan mampu beradaptasi dalam situasi apa pun, termasuk kinerja keuangan.
3) Loyalitas berlebihan
Jika Anda harus membuktikan loyalitas tanpa syarat, bahkan jika itu berarti mengompromikan keyakinan atau batasan etika Anda, maka budaya perusahaan tersebut mirip dengan sekte. Dalam lingkungan seperti itu, orang cenderung kurang berani menyuarakan kekhawatiran atau menentang pihak yang salah, terutama pemimpin.
Penelitian menunjukkan bahwa loyalitas dapat mengurangi pelaporan pelanggaran dan membuat karyawan kurang bersedia mengungkapkan kekhawatiran, terutama dalam kelompok internal. Misalnya, loyalitas menghalangi karyawan berbicara menentang pelanggaran, karena itu akan dianggap sebagai tindakan pengkhianatan.
Pemimpin dan karyawan yang tidak mengatasi masalah internal berpotensi menghancurkan kelangsungan perusahaan mereka.
Artikel berikutnya: Recruitment Scam: Kenali dan Lindungi Perusahaan dari Penipuan
4) Sindrom corporate stockholm
Saat Anda mengetahui pemimpin berkarisma memaksakan loyalitas, tetapi Anda tetap bekerja di perusahaan tersebut, maka ini disebut sindrom corporate stockholm.
Mereka yang dalam situasi ini sering kali kehilangan rasa identitas dan menerima persepsi realitas yang menyimpang, seperti pelecehan dan perilaku beracun dianggap normal di tempat kerja. Dampaknya, mereka merasa tidak bisa pergi atau meragukan kemampuan mereka untuk menemukan pekerjaan di tempat lain, karena kepercayaan diri mereka telah terkikis.
5) Di tengah “believers”
Terkadang, seseorang tidak menyadari bahwa dirinya ada di tengah “believers” atau orang-orang yang percaya. Tandanya antara lain perusahaan memiliki sesi berbagi yang rumit dan/atau panjang, bahasa yang digunakan memperkuat budaya atau pemimpin, pekerjaan meniadakan privasi atau istirahat.
Lingkungan tersebut menciptakan rasa kebersamaan dan tujuan kuat, tetapi juga mengaburkan batasan antara kehidupan pribadi dan profesional. Hasilnya, karyawan merasa sulit untuk melepaskan diri dan mempertahankan individualitas mereka.
Dengan mengenali kelima tanda di atas, Anda dapat menentukan apakah lingkungan kerja saat ini sehat atau seperti kultus korporat. Tim HR perlu mengingatkan manajemen bahwa budaya perusahaan sehat bertujuan untuk membuka dan menyatukan perspektif, keterampilan unik, serta mendorong perbedaan pendapat yang terbuka antara karyawan dan atasan.
Pemimpin pun harus mendorong otentisitas dan individualitas karyawan agar mereka dapat berkembang tanpa menyerah pada tekanan konformitas. Upaya tersebut penting dilakukan oleh perusahaan inovasi dan tata kelola yang etis.

Leave a Reply