HRPods mengelola emosi di tempat kerja

10 Strategi Mengelola Emosi di Tempat Kerja Ini Menciptakan Ekosistem yang Sehat

Mengelola emosi di tempat kerja memerlukan penguasaan kecerdasan emosional untuk merespons hal-hal yang Anda jumpai. Sebagai bagian dari departemen atau tim HR, Anda akan menemui kejadian yang melibatkan emosi, baik yang menyenangkan, menyebalkan, maupun menyedihkan. 

Sebagai manusia, kita merasa kesulitan untuk tidak emosional, meskipun pada beberapa situasi kita harus “menekan” agar tidak meluapkan kemarahan. Bila Anda melakukannya, hal ini tak hanya memengaruhi citra diri, juga proses kolaborasi dan hasil kerja. Oleh karena itu, Anda dan tim perlu mengelola emosi di tempat kerja dengan baik sebagai ukuran profesionalisme. 

Manusia adalah Makhluk Emosional

Sebagai manusia, kita sering kali membanggakan diri sebagai makhluk rasional. Kita membuktikan diri karena berhasil dalam kemajuan sains, penguasaan alat digital dengan fitur kompleks, hingga pengaturan orang lain atau sumber daya manusia (SDM). 

Namun, ketika berhadapan dengan ketidaknyamanan, kita mengungkapkan kebenaran yang mendasar, yakni manusia adalah makhluk emosional. Kita adalah makhluk yang memiliki perasaan yang sambil berpikir. 

Emosi manusia–positif atau negatif, itu tak menjadi persoalan–paling terlihat dalam ruang kolektif, termasuk tempat kerja. Seseorang dapat meledakkan emosi di kantor karena masalah pekerjaan atau tekanan dari kehidupan pribadi yang memengaruhi kehidupan kerja. Emosi yang paling umum dialami di tempat kerja ialah frustrasi, kekhawatiran, kemarahan, ketidaksukaan, ketidakbahagiaan, dan juga sebaliknya.

Di sisi lain, menekan atau menyembunyikan emosi bukanlah hal baik bagi kesehatan kita. Emosi harus dikelola agar kita dapat berfungsi dalam berbagai situasi. 

Mengelola emosi di tempat kerja menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan kolaboratif. Langkah tersebut dapat meningkatkan moral dan produktivitas tim secara keseluruhan.

Baca juga: Pemimpin Terbaik Burnout: Ketahui Penyebab dan Solusinya

10 Strategi Mengelola Emosi di Tempat Kerja

Sebagai karyawan yang menduduki departemen atau divisi HR, terkadang kita memiliki “beban” karena menjadi contoh bagi karyawan. Sebut saja, contoh seseorang yang datang tepat waktu di kantor, menghitung gaji sesuai kehadiran karyawan, atau mengatur kebijakan kerja dengan memperhatikan kebutuhan karyawan dan bisnis. 

Ada kalanya, kita menemukan peristiwa yang memicu kemarahan atau hal-hal menjengkelkan atau suatu kondisi yang membuat kita bahagia sehingga terlalu berbangga diri. Bila kita tidak mampu mengelola emosi di tempat kerja dengan baik, maka ini akan berpengaruh terhadap komunikasi dan kolaborasi antar tim.

Apa saja strategi yang dapat kita gunakan untuk mengelola emosi?

1) Kompartementalisasi

Kompartementalisasi merupakan mekanisme pertahanan psikologis dengan memisahkan pikiran, perasaan, dan pengalaman yang bertentangan sehingga dapat mengurangi stres atau kecemasan berlebihan. 

Sebagian orang merasa terbantu dengan menyimpan atau mengunci mental sementara waktu. Caranya: 

  • Meninggalkan urusan pribadi di rumah saat berangkat kerja 
  • Dalam perjalanan kerja, gunakan waktu itu untuk menenangkan pikiran dan melepaskan beban, seperti naik bus sambil mendengarkan lagu atau sadar dan tenang saat menyetir

Jika pekerjaan Anda membuat Anda stres, simpan hal itu ke dalam “kotak” agar Anda tidak meluapkannya di rumah atau di depan orang terdekat. 

2) Pelajar teknik pernapasan

Anda perlu belajar teknik pernapasan yang cocok dengan diri Anda. Misalnya, teknik pernapasan diafragma, box breathing, buteyko, atau meditasi. 

Jangan hanya mempraktikkan saat latihan, tetapi lakukan ketika Anda di kantor. Ini akan membantu mengatasi kecemasan, kekhawatiran, frustrasi, dan kemarahan. Cara lain, Anda bisa berjalan-jalan, mendengarkan musik menenangkan, atau berbicaralah dengan rekan kerja untuk meregulasi emosi.

3) The 10-second rule

Ketika Anda merasa marah, frustrasi, atau geram, cobalah hitung sampai 10 untuk menenangkan diri. Jika memungkinkan, permisilah untuk menjauh sejenak dari situasi tersebut, tetapi yakinkan pihak lain bahwa Anda akan kembali untuk menyelesaikan masalah tersebut.

4) Klarifikasi

Jika Anda menghadapi kondisi yang tidak sesuai kepatuhan HR, sebaiknya klarifikasi terlebih dahulu sebelum bereaksi. Langkah ini untuk memastikan jika itu hanya kesalahpahaman atau miskomunikasi sederhana.

5) Luapkan amarah melalui olahraga

Daripada kehilangan kendali, sebaiknya Anda meluapkan amarah dengan berolahraga, seperti lari di treadmill, mengikuti kelas kickboxing, atau berlatih padel. Olahraga dapat menjadi cara yang baik untuk mendapatkan endorfin guna meningkatkan suasana hati. Selain itu, olahraga akan melepaskan ketegangan fisik di tubuh Anda.

Referensi artikel: Fenomena Overwork: Antara Tuntutan Ekonomi, Beban Kerja, dan Tantangan Ketenagakerjaan

6) Jangan mengambil keputusan saat marah

Di era komunikasi instan ini, Anda merasa mudah sekali untuk mengirim email atau menjawab pesan singkat. Bila Anda sedang marah, sebaiknya tunda untuk berkomunikasi dan mengambil keputusan

Anda tetap bisa mengetik jawaban untuk pesan pendek terlebih dahulu, tetapi simpan sebagai draf dan pikirkan beberapa jam atau seharian. Baca kembali keesokan hari atau minta seseorang yang Anda percayai untuk membacanya sebelum Anda mengirimnya. Jangan biarkan amarah mengendalikan Anda.

7) Kenali pemicu 

Jika Anda mampu mengenali pemicu yang membuat kesal atau marah, ini akan sangat membantu untuk tetap tenang dan merencanakan reaksi selanjutnya atau mengantisipasi reaksi pihak lain, terutama jika situasi tersebut terjadi. 

8) Bersikap tetap hormat

Anda tidak bisa mengharapkan rekan kerja berperilaku  sama seperti perilaku Anda ke mereka. Jika seseorang bersikap kasar, tidak perlu membalasnya. 

Anda bisa tetap bersikap ramah dan tegas tanpa bersikap agresif. Sering kali, orang yang kasar akan melunak, jika mereka tidak mendapat reaksi dari Anda. Bahkan mereka akan menyadari bahwa orang satu-satunya yang berteriak di ruangan itu.

9) Minta maaf atas luapan emosi 

Terkadang mengelola emosi di tempat kerja tidak berjalan lancar, karena Anda kurang mampu menguasai diri sehingga meluapkan emosi ke rekan kerja

Segera meminta maaf kepada orang tersebut dan orang-orang di sekitar Anda yang mendengarnya. Anda tidak perlu menjelaskan diri atau bersikap defensif. Cukup dengan mengatakan, “Saya minta maaf. Saya bereaksi dengan buruk.” yang akan membuat perbedaan besar.

10) Jangan membawa emosi ke rumah 

Membawa emosi ke rumah akan membawa “kehancuran” bagi kehidupan pribadi Anda. Sebaiknya, sebelum pulang ke rumah, kosongkan “tempat sampah” emosi guna mencegah rasa kewalahan.

Untuk mengelola emosi antara di rumah dan tempat kerja, lakukan kompartementalisasi, pelajari teknik napas, olahraga secara rutin, atau rencanakan melakukan aktivitas menyenangkan setelah bekerja.

Lingkungan kerja harus menjadi ruang aman bagi semua orang, termasuk karyawan, karena hal tersebut dapat menciptakan ekosistem yang sehat. Di sini, perusahaan dapat mendorong semua orang di perusahaan untuk mengelola emosi di tempat kerja dengan dukungan tim HR. 

Anda dan tim memastikan karyawan memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikan diri dan berfokus responsif daripada reaktif. Ciptakan pula budaya kerja yang menghargai komunikasi terbuka dan jujur.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *