Bagaimana Anda melakukan praktik dan cara mengukur employee experience? Bagi tim HR, pertanyaan tersebut kerap sekali Anda dengarkan, terlebih jika tim Anda memiliki inisiatif baru untuk memberikan employee experience yang positif.
Inisiatif tersebut tak sekadar memenuhi fungsi tim HR, tetapi lebih dari itu, yakni memengaruhi keterlibatan, retensi, dan kinerja karyawan, serta citra perusahaan. Langkah tersebut akan berpengaruh kepada seberapa cepat karyawan menjadi produktif, berapa lama mereka bertahan, dan bagaimana mereka menggambarkan perusahan kepada orang lain.
Alasan Employee Experience Menjadi Prioritas dalam Pengelolaan SDM
Pengelolaan sumber daya manusia (SDM) tak sekadar memperhatikan hal-hal administrasi, juga strategi, salah satunya adalah menjalankan employee experience. Kenapa hal ini penting?
Performa perusahaan
Employee experience berakar dari interaksi sehari-hari, seperti:
- Seberapa jelas perusahaan mengomunikasikan harapan kepada karyawan?
- Bagaimana perusahaan menangani employee recognition?
- Bagaimana manajer mendukung tim mereka?
- Bagaimana pekerjaan diselesaikan dengan baik?
Momen tersebut membentuk apakah karyawan merasa pekerjaan mereka bermakna dan terhubung dengan tujuan perusahaan atau tidak. Pada gilirannya, proses tersebut akan memengaruhi kinerja karyawan yang mengarah kepada performa perusahaan pada umumnya.
Antara komitmen dan brand advocate
Pengalaman karyawan sepanjang siklus hidup karyawan memengaruhi apakah mereka akan tetap bertahan, bekerja tidak lebih dari dua tahun, atau mendorong rekan mereka berbakat untuk bergabung. Upaya tersebut berdampak langsung pada citra perusahaan dan talent acquisition. Jadi, pengalaman karyawan yang luar biasa menciptakan brand advocate yang berharga. Bahkan efeknya setelah karyawan meninggalkan perusahaan.
Mendukung kinerja jangka panjang
Praktik terbaik dalam employee experience ialah membangun kinerja yang kuat melalui hubungan manajer yang bermakna, harapan yang jelas, dan peluang pengembangan karyawan. Pengalaman ini meningkatkan kesejahteraan karyawan dan memberi alasan mereka untuk menginvestasikan karier kepada perusahaan. Tentu, dampaknya terlihat pada kinerja jangka panjang, baik dari sisi karyawan maupun perusahaan.
Baca juga: 5 Alasan Penurunan Employee Engagement dan Solusinya
Praktik dan Cara Mengukur Employee Experience
Sebelum membahas praktik dan cara mengukur employee experience secara keseluruhan, kita akan membahas praktiknya terlebih dahulu berdasarkan Gallup.
4 praktik employee experience yang efektif
Praktik terbaik menjalankan pengalaman karyawan yang efektif harus memenuhi employee life cycle. Ini adalah gambaran tahapan yang dilalui oleh karyawan, mulai ia bekerja sampai mengundurkan diri.
Praktik employee experience dapat membantu karyawan agar mereka merasa didukung, terhubung, dan melakukan pekerjaan terbaik mereka, sehingga memperkuat keterlibatan, kinerja, dan kesuksesan perusahaan jangka panjang.
1) Hubungan antara manajer dan karyawan
Hubungan antara karyawan dan manajer adalah faktor terpenting yang memengaruhi bagaimana seseorang memiliki pengalaman–baik atau buruk–terhadap pekerjaan. Tim HR perlu mengingatkan manajer bahwa karyawan mencari sosok pemimpin yang peduli dengan mereka. Mereka akan menghargai pemimpin yang bertanggung jawab atas anggota tim, mengakui prestasi, dan membimbing mereka untuk pertumbuhan di masa depan.
Ketika manajer memahami kekuatan dan aspirasi setiap karyawan, ia dapat memberikan dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dan membantu karyawan menyadari nilai mereka saat ini dan di masa depan. Jadi, berinvestasi dalam program pengembangan manajer yang mempromosikan praktik terbaik employee experience adalah kunci keberhasilan strategi tempat kerja.
2) Kejelasan peran dan ekspektasi sejak dini
Kurang kejelasan tentang peran dan ekspektasi di tempat kerja adalah salah satu hambatan paling umum dalam employee experience yang positif.
Tak peduli karyawan dari lulusan baru atau senior, mereka tetap perlu memahami tanggung jawab kerja. Mulai dari bagaimana mereka berkontribusi pada keberhasilan tim dan perusahaan, serta definisi kinerja yang hebat.
Kejelasan ekspektasi dapat mengurangi gesekan, meningkatkan kepercayaan diri, dan mendukung akuntabilitas. Ketika manajer mengomunikasikan ekspektasi sejak dini dan memperkuatnya melalui dialog berkelanjutan, kejelasan peran menjadi kekuatan dalam seluruh employee life cycles.
3) Membangun kepercayaan dan kolaborasi
Hubungan tim yang kuat akan membangun kepercayaan dan kolaborasi. Pasalnya, tim akan membentuk pengalaman karyawan sehari-hari, seperti proses memecahkan masalah, mengelola informasi, mengatasi konflik, dan mencapai hasil bersama.
Saat karyawan mempercayai orang-orang yang bekerja bersama mereka dan merasa dihargai sebagai anggota tim, ia akan mengeluarkan kinerja terbaiknya. Di sini, peran manajer juga penting untuk meningkatkan pengalaman karyawan, seperti menyelaraskan tujuan dan memperkuat norma yang sehat.
4) Ruang kerja mendukung produktivitas
Ruang kerja merupakan bagian penting dari pengalaman karyawan. Baik karyawan bekerja di kantor, jarak jauh, atau pengaturan hibrida, mereka membutuhkan lingkungan yang meminimalkan masalah dan mendukung fokus.
Menciptakan ruang kerja yang mendukung produktivitas dapat berbentuk pemberian akses ke peralatan yang tepat, pertimbangan ergonomis, ruang kolaborasi, dan lingkungan yang mencerminkan budaya yang ingin dipromosikan oleh perusahaan. Ketika karyawan merasa nyaman dengan lingkungan kerja, mereka dapat fokus pada memberikan nilai tambah, alih-alih mengatasi hambatan yang tidak perlu.
Referensi artikel: 5 Contoh Perusahaan Sukses dengan Employer Value Proposition
5 cara mengukur pengalaman karyawan
Salah satu alasan perusahaan perlu melakukan praktik dan cara mengukur employee experience adalah mengevaluasi momen penting di sepanjang siklus hidup karyawan. Bagaimana cara mengukurnya? Berikut ini metode pengukurannya:
1. Evaluasi momen bermakna
Perusahaan yang menciptakan matriks pengalaman karyawan yang bermakna akan mendorong tim HR untuk memeriksa momen-momen penting di sepanjang employee life cycle.
Pemetaan siklus hidup membantu pemimpin memahami apa yang dialami oleh anggota timnya pada tahapan penting, seperti proses rekrutmen, onboarding karyawan baru, kinerja karyawan, program pelatihan, hingga pengunduran diri. Pengukuran ini menyoroti poin positif yang memperkuat budaya perusahaan maupun poin negatif yang dapat mengurangi pengalaman tersebut.
2. Gunakan survei
Survei pengalaman karyawan memberikan perusahaan untuk mengevaluasi persepsi dalam skala besar. Hasilnya dapat mengungkap pola dalam kehidupan kerja sehari-hari karyawan, sehingga pemimpin dapat melihat di mana karyawan melakukan kinerja konsisten dan di mana terjadi kendala. Selanjutnya, mereka dapat meningkatkan kejelasan, dukungan, dan keselarasan perusahaan kepada anggota timnya.
3. Mendengarkan karyawan
Data kuantitatif saja tidak dapat menjelaskan keseluruhan pengalaman karyawan. Tim HR perlu mendengarkan karyawan dan manajer dalam diskusi terpisah. Percakapan ini mengungkap realitas emosional yang tidak dapat ditangkap hanya oleh matriks.
Hasilnya, Anda dan tim bisa menawarkan wawasan kualitatif yang kaya tentang bagaimana karyawan menangani peran, hubungan, dan lingkungan kerja mereka. Lebih lanjut, pemimpin dapat memahami pengalaman karyawan dengan lebih manusiawi.
4. Umpan balik transisi
Proses awal onboarding mengungkapkan hal-hal yang tidak tampak di luar. Misalnya, apakah karyawan memperoleh kejelasan dan apakah mereka mendapatkan dukungan dalam bekerja.
Dalam proses tersebut dapat mengungkap akar penyebab karyawan mengundurkan diri, sehingga kondisi ini memerlukan umpan balik transisi setiap siklus. Mulai dari proses rekrutmen, program pelatihan, hingga penilaian kinerja.
Tim HR dapat meminta umpan balik dari karyawan baru dan mendengarkannya, karena informasi itu sering kali mengungkap perilaku berulang yang menjadi pemicu karyawan resign. Hasil dari pengumpulan umpan balik, perusahaan dapat menyesuaikan dukungan kepada karyawan untuk meningkatkan pengalaman mereka.
5. Platform employee experience
Selain itu, tim HR dapat menggunakan platform employee experience guna menggali lebih mendalam tentang ulasan, data pengamatan media sosial, dan sinyal reputasi perusahaan. Ini menggambarkan bagaimana karyawan melihat budaya perusahaan.
Apa pun praktik dan cara mengukur employee experience, wawasan tersebut dapat membantu pemimpin memahami pengalaman karyawan secara selaras dengan jenama yang ingin ditampilkan oleh perusahaan. Tentunya, pemimpin akan melihat apakah tempat kerja memenuhi janjinya kepada karyawan.

Leave a Reply