Bisakah masa probation mendorong kinerja? Tentu saja bisa, selama perusahaan tidak menganggap masa ini sebagai acara formalitas yang harus mereka selesaikan. Ini ialah salah satu peluang penting karena tim HR mengenalkan budaya perusahaan yang membentuk kinerja sekaligus membangun kepercayaan antara karyawan dengan perusahaan.
Dampak dari upaya tersebut, karyawan yang merasa cocok akan bekerja lebih lama di perusahaan Anda. Jika ia merasa tidak cocok, ia akan langsung meninggalkan perusahaan. Kalau banyak karyawan baru yang melakukan hal tersebut, sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat turnover. Langkah selanjutnya, tim HR dan manajemen harus memperbaiki masa probation serta menganalisis budaya perusahaan.
Mengenal Masa Probation
Masa probation merupakan waktu percobaan bagi karyawan baru yang berhasil melewati proses rekrutmen. Masa ini berlangsung tiga bulan dan individu bersangkutan memiliki perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT).
Bila karyawan tersebut memegang perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT), maka perusahaan tidak boleh mengenakan masa percobaan kepada yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan UU Ketenagakerjaan dan PP 35/2021 yang mengatur perjanjian kerja.
Pada masa ini, perusahaan dan karyawan berkesempatan untuk menjalani dan mengevaluasi apakah pihak masing-masing cocok dalam bekerja sama atau tidak. Misalnya, seorang karyawan menilai apakah dirinya cocok dengan peran dan tanggung jawab yang harus dikerjakannya.
Di sisi perusahaan, ini adalah kesempatan perusahaan memanfaatkan masa probation mendorong kinerja anggota baru. Sebut saja, tim HR mengenalkan budaya dan nilai perusahaan, lalu manajer meletakkan dasar cara kerja terhadap anggota baru. Proses ini membentuk sense of ownership, etos kerja, dan komitmen mereka terhadap perusahaan.
Baca juga: 9 Strategi Membangun Sense Of Ownership
Pertimbangkan 9 Ini agar Masa Probation Mendorong Kinerja
Menurut Catriona Hardiman FCPHR dalam laman AHRI, jika perusahaan mengabaikan masa probation, maka Anda tidak hanya berisiko kehilangan karyawan, juga ketidakterlibatan dalam jangka panjang dan kinerja mereka yang rendah.
Tim HR bekerja sama dengan manajer dapat memanfaatkan masa percobaan guna mendorong kinerja mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, Anda dapat mempertimbangkan langkah berikut ini:
1. Perpanjangan dari proses rekrutmen
Proses rekrutmen tidak berakhir saat kandidat menandatangani kontrak sebagai karyawan baru. Tugas Anda akan berlanjut menilai kesesuaian budaya perusahaan dan peran yang diemban oleh karyawan baru, apakah ia dapat beradaptasi dengan perusahaan atau tidak.
“Itulah mengapa saya menganggap masa percobaan sebagai bagian kedua dari proses rekrutmen,” ujar Hardiman.
Masa probation mengharuskan tim HR untuk menghargai perubahan hidup yang telah mereka lakukan untuk bergabung dengan perusahaan Anda dan menguji apakah janji–tentang budaya, nilai, dan peluang karier di perusahaan–yang dikatakan ketika wawancara sesuai dengan kenyataan.
2. Hormati keseluruhan pribadi karyawan
Pekerjaan bukan hanya sekadar peran. Ini adalah mata pencaharian dan rutinitas karyawan. Dalam banyak kasus, ini ialah pusat stabilitas keluarga mereka.
Dengan kata lain, agar masa probation mendorong kinerja, Anda dan manajer perlu mempertimbangkan apakah mereka menjalin hubungan dengan rekan kerja, merasa diterima dan diperhatikan, hingga mengetahui ke mana harus meminta bantuan. Ketika hal itu berhasil, perusahaan menciptakan fondasi kepercayaan dan hubungan yang memberikan manfaat selama bertahun-tahun.
3. Tanggung jawab bersama
Pengelolaan masa percobaan bukan hanya tanggung jawab HR. Ini juga tanggung jawab kepemimpinan. Tim HR akan merancang kerangka kerja dan memberikan dukungan agar pemimpin mampu menahkodai onboarding karyawan baru, membekali mereka dengan ilmu dan keterampilan, serta mengembangkan mereka secara berkelanjutan.
4. Berikan kejelasan tentang tujuan
Kejelasan tujuan pada tahap awal sangat penting dalam masa percobaan. Manajer harus menetapkan tujuan bertahap bagi anggota baru. Penetapan tujuan ini membangun kejelasan pekerjaan, memberikan tolok ukur objektif, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Misalnya, karyawan memahami kode etik dan bertemu dengan pemangku kepentingan pada minggu pertama, mengerjakan tugas sesuai tenggat waktu dan memahami cara kerja pada bulan pertama, dan menyelesaikan proyek kecil atau mendemonstrasikan keterampilan teknis pada bulan kedua.
Artikel terkait: Onboarding Karyawan Baru, Tanggung Jawab Siapa?
5. Jangan harapkan karyawan mengetahui segalanya
Jangan mengharapkan karyawan baru mengetahui segalanya di perusahaan hanya karena ia adalah menduduki posisi senior dan memiliki pengalaman cukup lama di bidangnya. Mengingat setiap perusahaan memiliki aturan (tertulis dan tidak tertulis) dan nuansa budaya tersendiri, maka perusahaan tetap menjalankan onboarding–bagian dari masa probation–sebaik-baiknya.
Menganggap mereka sudah tahu bukan hanya membuat gagal, juga berisiko menimbulkan ketidaksesuaian budaya. Jadi, apa pun perannya, tim HR harus memfasilitasi onboarding secara layak dan manajer memastikan proses ini berjalan lancar.
6. Selaraskan harapan dengan kenyataan
Menyelaraskan harapan dengan kenyataan dapat membuat masa probation mendorong kinerja anggota baru. Usaha ini bisa dimulai dari unggahan lowongan kerja (loker) atau sesi wawancara, yaitu memberitahukan calon karyawan bagaimana bekerja di perusahaan Anda.
Hardiman mencontohkan sebuah perusahaan yang mengunggah informasi loker menuliskan, “Here’s why you might not like working here.” Tulisan itu dapat menjelaskan tantangan, tempo kerja cepat, atau keunikan budaya perusahaan secara jujur. Alhasil, kandidat dapat menetapkan ekspektasi secara realistis sejak awal. Ini bukan upaya menakut-nakuti, tetapi membangun kepercayaan kepada calon karyawan.
7. Berikan umpan balik secara berkala
Jangan menunggu masa probation selesai untuk memberikan umpan balik. Terlebih pemberiannya dilakukan di ujung masa tersebut dan perusahaan tidak dapat melanjutkan hubungan kerja dengan karyawan tersebut.
Hal itu bisa saja Anda lakukan, tetapi secara interaksi antarmanusia, kondisi tersebut sangat menghancurkan seseorang. Mengingat keadilan membutuhkan dialog, maka manajer perlu melakukan beberapa langkah, yaitu:
- Memberikan umpan balik seminggu atau dua minggu sekali agar masalah kinerja bisa diatasi dengan cepat
- Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memperbaiki kinerja
- Mengetahui harapan yang jelas bagi kedua belah pihak
8. Kenali tanda perpisahan
Masa probation menjadi salah satu cara melihat kecocokan antara kedua belah pihak.
Perusahaan akan menilai kecocokan terhadap cara dan hasil kerja karyawan telah sesuai dengan standar perusahaan atau belum, begitu pula sebaliknya. Jika perusahaan menganggap kinerjanya tidak sesuai, maka berikan dukungan yang diperlukan oleh karyawan untuk memperbaiki performa, berikan umpan balik teratur, dan buat linimasa perbaikan untuk mengetahui progresnya.
Namun, bila manajer dan tim telah melakukan segalanya untuk mendukung kinerja anggota baru, tetapi tidak ada perubahan atau kinerjanya justru menurun, maka salah satu jalannya adalah menyelesaikan masa percobaan. Anda harus menyampaikan berita buruk ini dengan empati dan transparansi, sehingga perpisahan kedua belah pihak ini tanpa huru-hara.
9. Media menanamkan budaya perusahaan
Karyawan akan membentuk pandangan tentang apakah mereka telah membuat pilihan yang tepat sering kali dalam enam minggu pertama. Jika melihat para pemimpin memberikan kejelasan tugas, umpan balik, dukungan, serta percaya cara kerja karyawan, maka mereka lebih cenderung berkomitmen, begitu juga sebaliknya.
Jadi, masa probation bukan sekadar mendorong kinerja, juga menanamkan budaya perusahaan kepada anggota baru. Sebagai HR dan manajer, Anda harus menggunakan masa ini bukan hanya untuk menjalankan bisnis semata, juga menghargai komitmen karyawan baru ketika mereka memilih bekerja di perusahaan Anda.
Masa percobaan tidak bisa dianggap remeh. Ini adalah salah satu katalis yang dimiliki oleh perusahaan untuk membentuk budaya dan kinerja. Ketika Anda menjalaninya sebagai interaksi manusia–bukan hanya tentang bisnis–maka masa probation bukan sekadar formalitas, justru ia menjadi unggul dan kompetitif.

Leave a Reply