Apakah bisa mengalami burnout selama Ramadan? Bisa, karena ini dapat terjadi kapan saja.
Bagi umat Muslim, Ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu karena momen ini memungkinkan Anda menabung pahala dengan berpuasa, salat tarawih, mengaji, dan membayar zakat, dan melakukan kegiatan sosial kepada sesama.
Sambil menjalankan ibadah, Anda juga harus menjalankan aktivitas harian, yakni bekerja. Memang, Anda sudah terbiasa melakukan ibadah sekaligus bekerja, tetapi tak sedikit pula yang merasa burnout. Ini bukan tanda seseorang malah beribadah maupun bekerja, bukan.
Burnout selama Ramadan adalah hal nyata karena perubahan rutinitas yang memengaruhi fisik dan mental. Simak ulasan dari ahli di bawah ini.
Respons Tubuh terhadap Perubahan Rutinitas
Zobia Amin, Psikolog Klinis di Rumah Sakit RAK di UEA, menjelaskan kepada Gulf News bahwa perubahan rutinitas harian terjadi secara tiba-tiba selama Ramadan berdampak pada tubuh dan pikiran manusia.
Ketika seseorang puasa, lanjutnya, ia akan mengalami perubahan pola tidur karena sahur, salat malam, peningkatan kewajiban keagamaan dan sosial, serta bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.
“Perubahan pola tidur akibat salat larut malam dan sahur mengurangi kualitas dan kuantitas tidur secara keseluruhan, sehingga mengganggu fungsi kognitif dan pengaturan emosi,” ujar Zobia.
Idealnya, seseorang dapat mengelola tuntutan pekerjaan dan komitmen keagamaan dengan baik. Jika tidak mampu, maka ia akan mengalami peningkatan beban mental dan tingkat stres. Meskipun tak sedikit orang yang diam-diam berjuang melawan kelelahan yang melampaui fisik. Namun, secara kumulatif, kondisi tersebut menyebabkan seseorang mengalami stres fisiologis dan psikologis.
Oleh karena itu, intervensi dini oleh tenaga profesional kesehatan mental dapat mencegah stres psikologis lebih lanjut. Hal ini mengingatkan kita semua bahwa tidak ada kesehatan fisik tanpa kesehatan mental.
Artikel terkait: Simak Kapan THR 2026 Karyawan Swasta Dibayar oleh Perusahaan
Apa Penyebab Burnout Selama Ramadan?
Dr. Raga Sandhya Gandhi, Spesialis Psikiatri di Rumah Sakit Zulekha, Dubai, mengatakan bahwa puasa jarang menjadi satu-satunya penyebab burnout. Ada beragam penyebab burnout, sebut saja dehidrasi, gejala putus kafein, kurang istirahat malam, dan kadar gula darah turun.
Senada dengan Gandhi, Zobia pun mengatakan demikian. Menurutnya, puasa dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah dan hidrasi, yang berpengaruh terhadap energi dan konsentrasi.
“Selain puasa, perubahan dalam rutinitas, jadwal tidur, dan dukungan yang tersedia untuk memastikan perubahan yang diperlukan dalam pola makan juga berkontribusi secara signifikan terhadap terjadinya burnout,” tambah Gandhi.
Faktor di atas kerap terjadi bersamaan selama Ramadan. Akibatnya, hormon stres meningkat, fungsi kognitif menurun, hingga disregulasi emosi yang menyebabkan gejala seperti burnout, mudah tersinggung, gelisah, sakit kepala, dan penurunan kewaspadaan.
Baca juga: 7 Kiat HR Menambah Karyawan Selama Libur Panjang
Tanda dan Solusi Mengatasi Burnout Selama Ramadan
Perhatikan tanda-tandanya
Bagi Anda yang menjalankan puasa Ramadan, pada minggu awal Anda bersemangat dan tubuh menyesuaikan perubahan, tetapi jika merasa lelah terus-menerus, Anda harus mewaspadainya.
Zobia menggarisbawahi tanda atau peringatan dini seseorang mengalami burnout, yaitu:
- Kelelahan terus-menerus yang tidak membaik dengan istirahat
- Perubahan suasana hati, seperti mudah tersinggung
- Sulit berkonsentrasi
- Kerap sakit kepala
- Otot tubuh menegang
- Mengalami gangguan tidur
- Pencernaan terganggu
“Ketika gejala tersebut mulai mengganggu aktivitas harian Anda, termasuk fungsi pribadi, sosial, atau profesional selama Ramadan, ini menunjukkan kelelahan sedang berkembang menuju burnout emosional atau psikologis,” kata Zobia.
Cara mengatasi burnout
Berdasarkan Gandhi, orang-orang yang memiliki kondisi kesehatan fisik atau mental seperti diabetes, kecemasan, atau depresi berisiko lebih tinggi menghadapi burnout. Dalam konteks profesional, karyawan yang berisiko mengalami burnout yaitu:
- Karyawan dengan pekerjaan yang membutuhkan kewaspadaan tinggi
- Karyawan yang bekerja berjam-jam
- Karyawan yang bekerja dengan sistem sif
- Karyawan yang kurang mendapatkan dukungan sosial atau emosional
Jika Anda tetap ingin menjalankan ibadah dan bekerja, tetapi mengalami burnout, maka Anda harus memprioritaskan perawatan diri. Berikut ini saran Zobia:
- Memiliki waktu istirahat yang cukup
- Menjaga nutrisi seimbang dalam batasan puasa
- Menetapkan ekspektasi realistis dalam pekerjaan dan kewajiban sosial, seperti menghadiri jadwal buka bersama di luar rumah terus-menerus
- Mempraktikkan hidup berkedasaran dan teknik relaksasi untuk mengelola stres
- Mencari bantuan profesional jika Anda tidak mampu mengatasi kelelahan yang terjadi terus-menerus
Ya, ketika Anda dapat melihat tanda-tanda burnout dan berupaya mengatasinya, tetapi masih merasa cemas, nafsu makan berubah, hingga kerap mengalami pusing dan asam lambung, sebaiknya Anda menghubungi profesional di bidang kesehatan mental terpercaya.
“Intervensi dini oleh profesional kesehatan mental dapat memberikan dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dan mencegah stres psikologis lebih lanjut,” tambah Zobia.
Tim HR Jangan Menunggu Keluhan Karyawan
Beberapa orang merasakan Ramadan kali ini sangat menantang, bukan proses ibadah puasa, tetapi kondisi yang menyertainya, seperti sering hujan dan angin kencang, ketidakstabilan ekonomi dan politik, serta banyak peristiwa ketidakadilan di sekitarnya.
Burnout dapat dicegah bila semua orang di lingkungan kerja memiliki dan menjalankan mental awareness. Jika tim HR atau rekan kerja Anda ada yang mengalami hal tersebut, berikan fasilitas kesehatan dan tawarkan bantuan yang dimiliki oleh perusahaan kepada mereka.
Jangan menunggu mereka mengeluh, jika tanda-tanda burnout sudah di depan mata, karena karyawan burnout tak hanya menurunkan produktivitas individu, tetapi bisa berdampak ke tim dan perusahaan.
Anda juga perlu mendorong manajer untuk mengenali tanda burnout pada karyawan, menyarankan anggota timnya mengambil cuti, atau mengatur ulang pola kerja. Dengan demikian, karyawan bisa fokus merawat diri mereka dan kembali bekerja dengan kondisi yang jauh lebih baik.
Mari mendukung teman-teman yang menjalankan ibadah puasa dengan meningkatkan komunikasi dan membangun koneksi antar tim. Semoga puasa Anda lancar sampai akhir Ramadan.

Leave a Reply