HRPods masalah karyawan yang ditimbulkan oleh lingkungan

Waspadai 5 Masalah Karyawan Ini Disebabkan Lingkungan Kerja

Perusahaan perlu memerhatikan lingkungan kerja yang Anda ciptakan. Pasalnya, hal tersebut dapat menunjang produktivitas atau menimbulkan masalah karyawan. 

Berdasarkan Center for Disease Control and Prevention, faktor yang memengaruhi kondisi karyawan adalah diri mereka sendiri dan lingkungan kerja, baik fisik maupun psikososial. Bila perusahaan mengabaikan hal itu, maka karyawan akan memikul beban personal dan pekerjaan terus-menerus sehingga menyebabkan mereka stress. Kalau mereka sering absen, produktivitas perusahaan cenderung menurun. 

Bagaimana Masalah Karyawan Ditimbulkan oleh Dampak Lingkungan Kerja? 

Masalah karyawan bisa muncul karena persoalan mereka, tetapi hal ini juga dapat disebabkan oleh lingkungan kerja. Masih berdasarkan CDC, lingkungan kerja yang berpengaruh terhadap karyawan adalah bersifat fisik dan psikososial. 

Lingkungan fisik 

Ini mengacu pada hal-hal fisik, seperti meja dan kursi kerja, pencahayaan, tingkat kebisingan, makanan dan minuman, hingga suhu udara di sekitar lingkungan kerja. Tim HR sebagai penghubung perusahaan dan karyawan perlu memperhatikan: 

1. Ruang 

Ruang kerja yang sempit dapat menyebabkan ketidaknyamanan fisik, seperti sakit punggung dan kemungkinan mudah tertular virus dari rekan kerja. Namun, menempatkan karyawan terlalu jauh satu sama lain bisa membuat mereka terisolasi. Penelitian menunjukkan bahwa desain kantor memengaruhi keadaan sosial dan emosional serta kesehatan fisik. 

2. Perlengkapan 

Kursi yang tidak nyaman dan permukaan meja dengan ketinggian yang salah dapat menyebabkan sakit punggung, sakit leher, ketegangan otot, dan memar. 

3. Pencahayaan

Pencahayaan bisa memengaruhi produktivitas, suasana hati, serta menyebabkan masalah kesehatan fisik. Cahaya yang redup menyebabkan ketegangan mata, kelelahan, sakit kepala, stres, dan kecelakaan. Sebaliknya, pencahayaan terlalu terang membuat sakit kepala akibat silau dan stres. Selain itu, penggunaan pencahayaan buatan, terutama lampu neon, menyebabkan seseorang depresi dan kurang motivasi.

4. Suhu 

Jika suhu AC terlalu dingin, karyawan kesulitan berkonsentrasi atau mengalami nyeri otot serta masalah kardiovaskuler dan pernapasan. Namun, suhu terlalu panas menyebabkan dehidrasi, serangan panas, hingga kematian.

5. Kualitas udara

Udara yang disirkulasi ulang menyebarkan penyakit dan kontaminan di dalam ruangan, seperti jamur, yang dapat memperburuk atau menyebabkan gangguan pernapasan, termasuk asma. Kualitas udara dalam ruangan yang buruk telah dikaitkan dengan penyakit fisik, seperti kepala, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, dan iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

6. Tingkat kebisingan

Tempat kerja yang bising menurunkan produktivitas dan konsentrasi, meningkatkan stres, dan dalam kasus ekstrem, mengakibatkan gangguan pendengaran.

7. Makanan dan minuman

Kebersihan lingkungan tidak diperhatikan oleh perusahaan dapat menyebabkan kontaminasi terhadap makanan dan minuman yang berasal dari perusahaan maupun kantin. 

Lingkungan psikososial

Lingkungan psikososial dapat memengaruhi kesejahteraan karyawan. Jadi, Anda dan tim perlu memahami lingkungan ini, seperti: 

1. Stres 

Stres berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental, seperti penyakit kardiovaskuler, asam lambung, otot tegang, kecemasan, depresi, penyalahgunaan obat, hingga masalah tidur. 

2. Merasa tidak berdaya

Karyawan yang merasa sedikit atau tidak ada kontrol terhadap pekerjaannya cenderung tidak termotivasi bekerja, kurang terlibat, kurang produktif, cemas, sering sakit, yang pada akhirnya akan burnout dan mengundurkan diri. 

3. Kurang dukungan sosial

Perusahaan yang memperlakukan karyawan seperti mesin atau sekadar angka, maka hal itu menurunkan moral tim, karena mereka merasa tidak didukung dan tidak diperlakukan sebagai aset. 

Artikel terkait: 6 Langkah Mengatasi Masalah Disiplin Karyawan Di Tempat Kerja

5 Masalah Karyawan yang Perlu Diwaspadai oleh Tim HR

Dari pengabaian lingkungan kerja di atas, cepat atau lambat tim HR akan menjumpai masalah karyawan yang berhubungan dengan kondisi tersebut. Apa saja masalahnya?

1) Penurunan produktivitas 

Ketika karyawan sakit karena perlengkapan kerja tidak ergonomis, ada sebagian pekerjaannya yang tidak akan selesai. Manajer bisa saja menugaskan sebagian pekerjaan kepada karyawan lain, tetapi mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan yang sama dengan karyawan yang sakit. Ketidakhadiran dan proses delegasi ini menyebabkan produktivitas menurun, karena tugas tetap tidak selesai, sebagian selesai, diselesaikan dengan tidak benar, atau diselesaikan lebih lambat.

2) Penurunan moral kerja

Saat beban kerja karyawan tiba-tiba meningkat tanpa kenaikan gaji yang sepadan karena ketidakhadiran rekannya, ia akan merasa terbebani. Kondisi ini membuat penurunan moral hingga kelelahan kerja. Situasi ini sangat tidak diinginkan baik bagi karyawan maupun perusahaan, kan?

3) Penambahan biaya kesehatan

Karyawan yang tidak tahan dengan suhu AC terlalu tinggi dan/atau kondisi AC yang tidak pernah dibersihkan berkala bisa membuatnya sakit. Bila sakit, mereka akan menggunakan asuransi atau reimbursement kesehatan, yang mana perusahaan harus mengeluarkan biaya kesehatan lebih banyak. Kalaupun mereka tidak menggunakan layanan kesehatan, tetapi mengajukan izin sakit atau paid leave, maka ada sebagian pekerjaan yang tidak diselesaikan. Tentu, hal itu berakibat pada penurunan produktivitas. 

4) Layanan pelanggan terbengkalai

Pada posisi tertentu, seperti layanan pelanggan di perusahaan elektronik atau salesperson di perusahaan retail, karyawan yang tidak masuk karena kelelahan menjadi masalah penting. Bila karyawan sedang stres karena tingkat kebisingan di lingkungan kerja, maka bukan tidak mungkin ia tidak maksimal memberikan layanan kepada pelanggan. Misalnya, ia merespons telepon pelanggan semakin lama atau kewalahan memecahkan masalah pelanggan, sehingga kepuasan pelanggan anjlok dan/atau keluhan meningkat. 

5) Kerugian penjualan 

Kondisi ini tidak diinginkan oleh perusahaan di mana pun mereka beroperasi. Sebut saja industri ritel, jumlah anggota tim yang berkurang bisa berdampak pada penjualan, karena pelanggan tidak akan dilayani secepatnya atau pertanyaan mereka tidak akan dijawab dengan segera, sehingga mereka pergi tanpa membeli. Keberadaan salesperson atau sales representative yang berkurang–terutama yang menangani barang bernilai tinggi dan membutuhkan waktu untuk dijual–dan tidak ditindaklanjuti dapat merugikan tim penjualan. 

Baca pula: 3 Solusi dari Perusahaan Atasi Masalah Keuangan Karyawan

6 Kiat Menciptakan Lingkungan Kerja Sehat

Untuk menyelesaikan masalah karyawan, tim HR perlu bekerja sama dengan manajer atau pemimpin tim. Langkah ini juga dapat membuat semua orang sehat dan sejahtera bagi semua orang yang berada di lingkungan tersebut, termasuk pihak ketiga atau vendor yang berkunjung ke tempat Anda. Berikut ini kiat untuk menciptakan lingkungan kerja sehat: 

1. Tanya karyawan

Sebelum menentukan strategi, program, kebijakan, mengganti perlengkapan, atau mengubah tata ruang, Anda perlu bertanya kepada karyawan tentang apa yang mereka butuhkan untuk mendukung kinerja atau membantu proses kerja secara efektif. Anda bisa bertanya langsung atau melalui survei. Dari hasil tersebut, Anda bisa merumuskan inisiatif yang berdampak bagi mereka. 

2. Buat kegiatan keterlibatan

Untuk membuat inisiatif, Anda bisa terlebih dahulu merancang employee engagement skala kecil untuk melihat reaksi karyawan dan menerima umpan balik mereka. Misalnya, mengadakan makan malam bersama dua minggu sekali, mensponsori pertandingan basket dua bulan sekali dan berikan hadiah bagi pemenangnya, dan/atau memberikan diskon keanggotaan di pusat kebugaran. Langkah ini dapat memotivasi mereka menjalankan hidup sehat sekaligus merekatkan hubungan profesional antarkaryawan. 

3. Latih manajer

Pastikan tim HR melatih para manajer untuk memperlakukan karyawan dengan pengertian dan bermartabat saat mereka meningkatkan kesehatan. Ini juga termasuk ketika tim HR mengubah atau memberlakukan peralatan baru, dorong manajer untuk menjelaskan latar belakang dan tujuan perubahan tersebut kepada anggota timnya. 

4. Hadapi masalah dan berikan solusinya

Jika dalam proses ini, ada masalah karyawan yang muncul, maka hadapi dengan bijak dan selesaikan. Misalnya, karyawan yang mengikuti olahraga justru cedera, maka sarankan ia bekerja dari rumah sehingga ia dan tim tetap bisa produktif. 

5. Sediakan tempat kerja ergonomis 

Tempat kerja yang ergonomis dapat mengurangi gangguan muskuloskeletal. Ini ialah cedera atau kondisi yang memengaruhi otot, saraf, tendon, ligamen, sendi, tulang rawan, atau tulang belakang.

Gangguan menyebabkan rasa sakit, kaku, dan gangguan fungsi gerak akibat gerakan berulang, postur tidak ergonomis, atau penggunaan tenaga berlebihan, sehingga memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas. Solusinya adalah perusahaan menyediakan peralatan (seperti kursi dan meja kerja) ergonomis yang menyangga postur tubuh, mengatur pencahayan alami terutama pada pagi hari, mengatur suhu AC yang sejuk bagi karyawan dan peralatan kerja, hingga menerapkan K3 guna menghilangkan efek bising atau kualitas udara yang buruk. 

6. Tingkatkan fleksibilitas kerja

Penelitian menunjukkan bahwa karyawan dengan jadwal kerja fleksibel mencatatkan kesejahteraan yang lebih baik. Fleksibilitas kerja mencakup hal-hal berikut:

  • Memberikan kesempatan karyawan kapan mulai dan berhenti jam kerja
  • Mengizinkan karyawan bertukar sif
  • Membuat rencana kerja jarak jauh
  • Memungkinkan model kerja hibrida
  • Mendorong karyawan mengambil cuti tahunan

Tim HR wajib menyelesaikan masalah karyawan yang bersinggungan dengan lingkungan kerja. Langkah ini memastikan operasional bisnis perusahaan berjalan lancar. Lingkungan yang lebih sehat akan bermanfaat bagi karyawan dan keuntungan perusahaan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *