Semua orang yang berkecimpung bidang human resources sudah mengetahui bahwa tim HR perlu mengadopsi teknologi. Pasalnya, infiltrasi teknologi dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM) sangat membantu tugas tim HR, mulai dari administrasi, proses rekrutmen, retensi karyawan, hingga evaluasi kinerja.
Berdasarkan laman HR Director, pemimpin HR dan timnya perlu berkolaborasi dengan AI pada tahun ini. Penggunaan AI bukan sekadar memprediksi hal-hal yang terjadi di masa depan, juga memperkuat aset perusahaan (karyawan), strategi SDM, employee experience, dan tenaga kerja yang fleksibel. Upaya tersebut dapat mendorong perusahaan tetap unggul dalam perubahan kondisi bisnis.
Oleh karena itu, tim HR harus memiliki “wajah baru” pada 2026. Ya, Anda dan tim perlu mengadopsi teknologi dengan membawa strategi sebagai digital ally, value creator, experience shaper, dan flow architect. Setiap bagian ini memberikan kerangka kerja yang jelas untuk memahami apa yang terjadi sekarang, yang akan terjadi selanjutnya, dan bagaimana perusahaan merespons secara efektif.
4 Strategi HR Dalam Mengadopsi Teknologi
1) Digital ally
AI bukan lagi ancaman, karena ia menghilangkan beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh manusia.
“Berkolaborasi dengan AI untuk memperluas setiap peran, memperkuat penilaian manusia, dan membebaskan manusia untuk fokus pada apa yang hanya dapat dilakukan oleh manusia,” ujar Jan Laurijssen, HR Evangelist di SD Worx.
Dalam hal ini, AI menjadi mitra tim HR guna meningkatkan keahlian, mempertajam keputusan, dan memperkuat employee experience, bukan menggantikannya. Perusahaan yang mengolaborasikan karyawan dengan AI akan menjadi perusahaan yang membuat teknologi benar-benar berpusat pada manusia.
Untuk membuka potensi AI, tim HR perlu mendesain fondasi yang kuat di atas:
- Intelligence: menggunakan AI untuk mendukung dan memperkuat pengambilan keputusan manusia
- Real-time responsiveness: memastikan karyawan dapat berinteraksi dengan sistem dengan lancar
- Trust: menjamin penggunaan teknologi yang transparan, adil, dan beretika
Baca juga: Masih Pentingkah Kesopanan? Ini 6 Strategi Menciptakannya di Dunia Kerja
2) Value creator
Tim HR dituntut aktif mengadopsi teknologi dengan cepat di tengah perkembangannya, kesulitan mencari tenaga kerja baru, dan ketidakpastian ekonomi. Bagi Laurijssen, pemimpin HR harus menjadi value creator untuk mendorong pertumbuhan bisnis sekaligus kesejahteraan karyawan. Strategi ini bisa Anda lakukan mengintegrasikan tiga prinsip:
- Strategic alignment: memastikan strategi SDM secara langsung mendukung hasil bisnis
- Holistic integration: menghilangkan sekat untuk menciptakan ekosistem SDM yang terhubung
- Sustainability: memprioritaskan ESG, kesempatan kerja jangka panjang, dan keputusan yang berdampak jangka panjang serta melampaui keuntungan jangka pendek
3) Experience shaper
Di pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif, employee experience menjadi keunggulan yang menentukan. Pada 2026, tim HR harus berstrategi menjadi experience shaper.
Anda dan tim akan bertugas merancang perjalanan yang empati, inklusif, dan personal guna membangun kepercayaan dan loyalitas karyawan. Hal ini mengharuskan tim HR bekerja berdasarkan prinsip:
- Human center: menempatkan kesejahteraan, empati, dan tujuan sebagai inti
- Inclusive: menanamkan keragaman, kesetaraan, dan aksesibilitas di seluruh siklus hidup karyawan
- Experience based: mengubah setiap interaksi menjadi momen yang berkesan dan bermakna
Prinsip di atas akan menghasilkan pengelolaan SDM yang berpusat pada manusia. Tim akan berfokus pada:
- Mendorong manajer agar membangun keamanan psikologis dengan menjalankan transparansi dan adaptasi
- Peran dan alur kerja akan beradaptasi dengan kebutuhan karyawan melalui jadwal kerja fleksibel, model hibrida, dan pengembangan yang dipersonalisasi
- Tim HR memberikan pengalaman yang cerdas secara emosional dan selaras dengan aspirasi karyawan
Artikel selanjutnya: Pahami Produktivitas Kerja Bagi Gen Z: Masa Depan Perusahaan
4) Flow architect
Pemimpin HR harus berperan sebagai flow architect untuk membangun sistem penyesuaian diri secara fleksibel terhadap perubahan prioritas, sehingga Anda bisa membuat jalur karier karyawan dan ekosistem pembelajaran agar keterampilan mereka tetap relevan. Strategi menjadi flow architect perlu memperhatikan:
- Fleksibilitas terhadap peran dan struktur yang terus berkembang seputar keterampilan dan hasil
- Mekanisme umpan balik, pembelajaran, dan mendengarkan secara waktu nyata secara berkesinambungan
- Proses yang transparan dan dapat dijelaskan untuk membangun keadilan dan kepercayaan
Mulai 2026, terang Laurijssen, pemimpin HR perlu mengadopsi teknologi melalui AI sebagai digital ally, mendorong dampak organisasi sebagai value creator, merancang perjalanan yang bermakna sebagai experience shaper, dan membangun sistem adaptif sebagai flow architect yang mendefinisikan era kerja berikutnya. Sudah saatnya HR melangkah dari pinggir lapangan menuju pusat dan memimpin.

Leave a Reply