HRPods tugas HR yang bisa digantikan oleh AI

3 Bidang Tugas HR yang Bisa Digantikan oleh AI

Apakah semua tugas HR yang bisa digantikan oleh AI? Saat ini, AI belum bisa menangani semua pekerjaan HR, kehadirannya dapat mengotomatiskan tugas yang bersifat administratif, repetitif, serta pada data. Tugas HR yang berhubungan dengan penilaian etika, pemahaman budaya perusahaan, hingga penyelesaian konflik tetap membutuhkan pengawasan dari manusia atau tim HR. 

Jadi, bagaimana menghadapi tugas HR yang bisa digantikan oleh HR? Cara kerja seperti apa yang bisa diterapkan oleh tim? 

AI Memasuki Semua Bidang Kerja

Beberapa tahun ini, artificial intelligence (AI) telah memasuki semua bidang kerja di perusahaan, sehingga karyawan harus beradaptasi bagaimana mereka bekerja, alat yang digunakan untuk bekerja, dan cara menyelesaikan pekerjaan. 

Dalam hal ini, tak sedikit perusahaan yang harus mengubah strategi bisnis agar dapat berjalan beriringan dengan AI. Bahkan AI telah mendesain ulang hierarki perusahaan. AI telah menjadi standar dasar yang menggantikan jutaan orang dalam pekerjaan sekaligus memunculkan pekerjaan baru. 

Dampak AI pada pekerjaan di bidang human resources, kondisi ini membawa perubahan secara signifikan pada fungsi tertentu. Peran yang dulu merupakan fondasi perusahaan, kini ditelan oleh efisiensi algoritma.

The HR Digest telah membahas survei dari AI Resume Builder, yang menemukan bahwa satu dari lima perusahaan telah mengganti beberapa pekerjaan dengan AI pada 2025. Sebanyak tiga dari 10 perusahaan berencana melakukannya pada 2026. 

Tim HR pun rentan terhadap AI, terutama mereka yang menangani tugas administrasi. Padahal tiga dekade sebelumnya, tim HR memikul beban kerja berlebihan mengenai pengurusan dokumen, pelacakan kepatuhan, dan tumpukan formulir onboarding karyawan baru yang tak ada habisnya. 

Sejak kemunculan chatbot dan AI generatif yang responsif yang dapat menangani tugas secara efisien, tim HR berada di ruang lingkup yang semakin menyempit dan terkadang tanpa arah tujuan yang jelas. Apa saja tugas HR yang bisa digantikan oleh AI? 

Artikel selanjutnya: Manfaatkan Penyedia Jasa Asesmen Jika Perusahaan Mengalami 4 Hal Ini

1. Tugas administratif

Tugas yang bersifat administrasi, seperti presensi karyawan, persetujuan cuti, memasukkan data ke dalam sistem penggajian, hingga pertanyaan tentang kebijakan perusahaan telah dilakukan oleh AI. Ini bisa berupa chatbot atau aplikasi yang bisa diakses kapan pun. 

Dengan teknologi berbasis AI, perusahaan memiliki aplikasi atau sistem yang dapat menghitung penggajian dan mengelola pemotongan pajak tanpa kesalahan manusia atau alat yang bisa menjawab secara langsung dan akurat dari pertanyaan yang diajukan oleh karyawan. 

Dulu, tugas tersebut dikelola oleh HR generalist untuk menjaga kelancaran operasional perusahaan. Saat ini, perusahaan membutuhkan HR generalist di luar hal administratif. Apakah dalam lima tahun ke depan perusahaan tidak membutuhkan HR generalist? 

2. Tugas rekrutmen

Selama ini, praktisi HR mengetahui bahwa perekrut memiliki beragam kemampuan unik, seperti “membaca” kandidat, menilai resume berdasarkan insting, atau membuat keputusan rekrutmen berdasarkan intuisi tentang kesesuaian budaya. Tak ada salahnya seseorang mempunyai kemampuan tersebut, tetapi hal itu tidak dapat dibuktikan secara langsung. Anda juga harus melengkapi diri dengan data untuk menjalankan proses rekrutmen secara adil dan sesuai tujuan perusahaan. 

Kini, penyaringan CV bisa dilakukan oleh applicant tracking system (ATS) yang mengadopsi teknologi AI, sehingga ia dapat menyaring kandidat berdasarkan keterampilan teknis, pengalaman, dan data yang dapat diverifikasi. Perekrut yang secara menolak bantuan algoritma dan lebih memilih firasat perlahan-lahan akan kalah dalam “pertempuran” rekrutmen. 

Perusahaan menginginkan kecepatan, keragaman, dan matriks rekrutmen berbasis data. Jadi, perekrut yang hanya mengandalkan intuisi perlu mengasah keterampilan AI dan data dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM).

3. Tugas kepatuhan

Setiap perusahaan harus menjalankan operasi bisnis sesuai hukum di negara dan provinsi setempat. Oleh karena itu, mereka wajib memperhatikan kepatuhan hukum sehingga menghindari masalah hukum di masa mendatang. 

Kini mengotomatiskan pemeriksaan kepatuhan dapat dilakukan sistem berbasis AI dan tanpa perlu campur tangan manusia. Bahkan sistem selalu memperbarui informasi terkini tentang regulasi pemerintah. Ketika sebuah mesin dapat membantu perusahaan menegakkan aturan, maka tim HR harus menawarkan sesuatu yang jauh lebih manusiawi. Anda dan tim akan fokus pada penyelesaian konflik dan mediasi yang berempati.

Baca juga: 8 Tantangan HR dalam Kepatuhan: Strategi Menghindari Risiko Hukum dan Finansial

Tim HR Menyikapi Paparan AI

Mereka yang menolak

Bukan hanya tugas HR yang bisa digantikan oleh AI, tetapi AI juga bisa menggantikan pekerjaan manusia. Misalnya, seorang middle manager yang memandang AI dengan permusuhan. 

Ia hanya melihat teknologi baru sebagai tren sesaat, bukan sebagai restrukturisasi tugas yang mendasar. Ia menolak untuk mempelajari tata kelola data dan mengabaikan rekayasa yang tepat waktu. 

Jika ini terjadi pada HR manager, ada kemungkinan ia akan gagal memahami mekanisme dasar platform HR dan tidak bisa memantau kinerja karyawan dari hal kecil atau administratif, seperti kehadiran dan pengajuan cuti. HR manager yang menolak teknologi sama sekali tidak siap menghadapi realitas baru, di mana tugas-tugas HR akan diotomatisasi oleh AI.

Referensi artikel: 5 Langkah Membuat Strategi Retensi Karyawan dengan Job Architecture

Mereka yang siap bertransformasi

Perusahaan membutuhkan tim HR yang dapat mengelola algoritma untuk mendeteksi bias, merancang alur kerja yang efisien, dan menafsirkan analitik untuk memprediksi pergantian karyawan.  Tim HR yang siap bertransformasi dengan teknologi berbasis AI cenderung lebih berkembang di lingkungan kerja tak menentu seperti ini. Mereka akan menjadi arsitek pengelolaan SDM pada masa mendatang. 

Profesional HR masa kini akan menyerahkan tugas administrasi kepada mesin. Selanjutnya, mereka mengambil peran yang membutuhkan kecerdasan emosional mendalam, penilaian etis, dan pandangan strategis ke depan. 

Alhasil, perusahaan akan menggandeng departemen, divisi, atau tim HR sebagai mitra bisnis yang terpercaya. Pasalnya, Anda dan tim mampu memberikan rekomendasi atau saran kepada jajaran eksekutif tentang desain organisasi dan investasi modal manusia. 

Tim HR yang menyadari perubahan di atas perlu menyesuaikan keterampilan agar Anda dapat merespons berbagai situasi dengan terampil. Dan, di pasar tenaga kerja pun Anda mempunyai keterampilan berharga yang tidak dimiliki oleh orang lain.


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *