Memiliki pekerjaan belum tentu memiliki pekerjaan layak. Di sisi lain, tingkat pengangguran global tetap stabil pada 2026, tetapi lagi-lagi kemajuan pekerjaan layak telah berhenti. Hal tersebut dilaporkan oleh International Labour Organization (ILO) pada Januari tahun ini.
Laporan menyoroti bahwa generasi muda terus berjuang di pasar kerja yang berisiko. Kondisi ini diperburuk oleh kehadiran artificial intelligence (AI) dan ketidakpastian kebijakan perdagangan.
Apa Itu Pekerjaan Layak?
Pekerjaan layak merupakan pencaharian produktif yang dipilih secara bebas, memberikan penghasilan adil, kondisi kerja aman, perlindungan sosial bagi keluarga, dan hak-hak di tempat kerja.
Hal ini merupakan bagian inti dari Sustainable Development Goals PBB, tujuan kedelapan. Memiliki pekerjaan layak mendorong kesetaraan, martabat, dan kebebasan bagi pekerja untuk berorganisasi dan menyampaikan kekhawatiran.
Agenda ILO mengenai pekerjaan layak memiliki empat pilar, yaitu:
- Prinsip dan hak fundamental di tempat kerja: kebebasan berserikat, berunding secara kolektif, penghapusan kerja paksa atau pekerjaan anak, dan nondiskriminasi
- Penciptaan lapangan kerja: kesempatan kepada pekerjaan produktif dan pengembangan usaha
- Perlindungan sosial: memastikan keselamatan, kesehatan, serta keamanan bagi pekerja dan keluarga mereka
- Dialog sosial: mempromosikan, memperkuat, dan memanfaatkan dialog tripartit antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah
Penerapan kerja layak mencakup seluruh jenis pekerjaan, baik di sektor formal maupun informal bertujuan untuk mendorong pemberdayaan individu sekaligus mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan dalam konteks perencanaan nasional yang aman, adil, dan berkelanjutan.
Pada 2026, ILO memiliki fokus utama, yaitu adaptasi standar pekerjaan layak terhadap tantangan ekonomi di platform digital.
Baca juga: 5 Masalah Ketenagakerjaan di Indonesia dan Solusi Kolaboratif
Kondisi Pekerjaan Layak Saat Ini
Berdasarkan Employment and Social Trends 2026, tingkat pengangguran global diproyeksikan tetap berada di angka 4,9% pada tahun ini. Angka ini setara dengan 186 juta orang, di mana jutaan pekerja di seluruh dunia masih terjebak dalam kondisi kerja yang jauh dari kata layak.
Direktur Jenderal ILO Gilbert F. Houngbo mengatakan ratusan juta pekerja terjebak dalam kemiskinan, sektor informal, dan pengucilan.
Ya, ketersediaan pekerjaan layak di dunia sedang jalan di tempat. Seseorang yang memiliki pekerjaan pun tidak menjamin kehidupannya menjadi lebih sejahtera. Apa yang terjadi pada pasar kerja global 2026?
Hampir 300 juta pekerja terus hidup dalam kemiskinan ekstrem, mereka berpenghasilan kurang dari USD3 per hari, sementara sektor informal meningkat, dengan 2,1 miliar pekerja yang diperkirakan bekerja pada sektor informal pada 2026. Padahal sektor ini tidak memberikan perlindungan sosial, hak-hak di tempat kerja, dan jaminan pekerjaan.
Negara berpenghasilan rendah yang kurang maju secara signifikan akan memperparah kondisi tenaga kerjanya. Terlebih, bila suatu negara terlambat bertransformasi ke industri atau jasa yang bernilai lebih tinggi. Hasilnya, tak ada kemajuan kualitas pekerjaan dan pertumbuhan produktivitas yang berkelanjutan.
Artikel berikutnya: Anak Legal: 5 Masalah Hukum Tentang Ketenagakerjaan
4 Tantangan dan Solusi Menciptakan Pekerjaan Layak
Selain pengangguran global, laporan juga menyoroti pengangguran anak muda meningkat menjadi 12,4% pada 2025 atau 260 juta orang tidak bersekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan (not in education, employment, or training atau NEET).
Di negara berpenghasilan rendah, angka NEET mengkhawatirkan yakni 27,9% sehingga mereka sulit menciptakan pekerjaan layak. Apa saja tantangannya?
1. Dampak AI
ILO memperingatkan bahwa artificial intelligence (AI) dan otomatisasi dapat memperburuk kondisi penciptaan lapangan kerja layak, meski dampaknya masih belum pasti tetapi kondisi tersebut perlu dipantau secara cermat.
Generasi muda terdidik di negara berpenghasilan tinggi pun tak lepas dari dampak ini. Mereka yang mencari pekerjaan pertama di bidang yang membutuhkan keterampilan tinggi pun akan kesulitan mendapatkan pekerjaan.
2. Ketidaksetaraan gender
Perempuan masih menghadapi tantangan berupa kesetaraan gender, sebagian besar didorong oleh norma dan stereotip sosial. Mereka hanya menyumbang dua perlima dari lapangan kerja global dan 24 persen lebih kecil kemungkinannya daripada laki-laki untuk berpartisipasi dalam angkatan kerja. Peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja telah terhenti, sehingga memperlambat kemajuan menuju kesetaraan gender di tempat kerja.
3. Pergeseran demografi
Laporan ini juga menganalisis bagaimana pergeseran demografi membentuk kembali pasar tenaga kerja.
Populasi yang menua memperlambat pertumbuhan angkatan kerja di negara kaya, karena semakin sedikit orang usia kerja yang tersedia untuk memasuki atau tetap bekerja. Di negara berpenghasilan rendah, mereka kesulitan mengubah pertumbuhan penduduk yang pesat menjadi lapangan kerja produktif.
Pertumbuhan lapangan kerja pada 2026 diproyeksikan sebesar 0,5% di negara berpenghasilan menengah ke atas, 1,8% di negara berpenghasilan menengah ke bawah, dan 3,1% di negara berpenghasilan rendah.
Tanpa peluang kerja produktif yang memadai, negara miskin berisiko menyia-nyiakan bonus demografi mereka.
Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja yang lemah di negara berpenghasilan rendah juga memperdalam ketidaksetaraan geografis, menghambat kemajuan menuju pekerjaan layak, dan memperlambat konvergensi standar hidup dengan negara maju.
4. Gejolak perdagangan
Gangguan perdagangan global menambah ketidakpastian di pasar tenaga kerja. Sebut saja aturan perdagangan dan hambatan rantai pasokan mengurangi upah pekerja, terutama di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Eropa.
Bagaimana pun juga perdagangan menjadi sumber utama lapangan kerja, karena ini mendukung 465 juta pekerja di seluruh dunia atau lebih dari setengahnya berada di Asia dan Pasifik.
Laporan mencatat bahwa perdagangan dapat menjadi pendorong kuat bagi pekerjaan layak, khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sektor usaha yang berhubungan dengan ekspor sering kali memberikan upah yang lebih baik, informalitas yang lebih rendah, dan lebih banyak peluang bagi perempuan dan kaum muda.
Bacaan selanjutnya: Panduan Rekrutmen 2026: Daftar Gaji di Berbagai Industri
Perdagangan antar negara berkembang telah meluas, seperti beberapa negara Afrika dan Amerika Selatan masih sangat bergantung pada pasar luar, karena sebagian besar pekerjaan mereka berhubungan dengan perdagangan.
Laporan ILO memberikan beberapa rekomendasi untuk mengatasi tantangan di atas, yaitu:
- Menerapkan kebijakan yang meningkatkan produktivitas seperti investasi dalam keterampilan, pendidikan, dan infrastruktur
- Mengatasi kesenjangan gender dan kaum muda dengan mengatasi hambatan partisipasi dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab
- Memperkuat perdagangan dan hasil pekerjaan layak sehingga semua wilayah mendapat manfaat dari arus global
- Mengurangi risiko yang timbul dari utang, AI, dan ketidakpastian perdagangan melalui kebijakan global dan domestik yang terkoordinasi
Houngbo menggarisbawahi kepada lembaga yang lebih kuat untuk memajukan pekerjaan layak dan berkeadilan sosial, khususnya di negara miskin yang berisiko tertinggal seiring dengan berkembangnya rantai pasokan dan perdagangan digital.
“Kecuali jika pemerintah, pengusaha, dan pekerja bertindak bersama untuk memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab dan memperluas peluang kerja berkualitas bagi perempuan dan kaum muda, melalui respons kelembagaan yang koheren dan terkoordinasi, defisit pekerjaan layak akan terus berlanjut dan kohesi sosial akan terancam,” ucapnya.
Pekerjaan layak adalah fondasi dari keadilan sosial dan stabilitas ekonomi. Di tahun ini, kita diingatkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas tidak ada artinya jika tenaga kerja tetap cemas terhadap masa depan mereka.
Fokus perencanaan nasional harus bergeser dari sekadar menciptakan lapangan kerja menjadi menciptakan pekerjaan yang aman, adil, dan berkelanjutan.

Leave a Reply