Pemimpin dan HR perlu perlu memahami career minimalism, karena ini bukan tren jangka pendek, melainkan berpotensi jangka panjang. Gen Z, tenaga kerja terkini atau pekerja muda, yang digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan di tempat kerja justru enggan menduduki kursi kepemimpinan.
Mereka mendefinisikan ulang arti kesuksesan profesional. Jadi, jangan heran jika mereka menolak posisi di manajemen ketika Anda menawarkan mereka sebuah promosi kerja. Anda dan tim perlu memahami career minimalism dari kacamata tenaga kerja terkini.
Tujuan Karier Generasi Z: Keamanan Finansial
Ketika Gen Z menuntaskan pendidikan tinggi, mereka berbondong-bondong bekerja ke sektor perawatan kesehatan, perdagangan terampil, pemerintahan, dan pendidikan. Sekilas peran di tempat kerja tersebut kurang menarik, tetapi jauh lebih stabil daripada bekerja di perusahaan teknologi dan konsultasi yang pernah mendominasi daftar pekerjaan impian beberapa tahun lalu.
Ya, teknologi artificial intelligence (AI) yang dapat menyelesaikan beberapa tugas sekaligus telah membuat Gen Z mempertanyakan keamanan pekerjaan mereka.
HR Dive melaporkan bahwa kecemasan terhadap AI mendorong perubahan karier ke sektor pekerjaan kerah biru dan pekerjaan yang secara tradisional stabil. Alasannya, pekerjaan di sektor tersebut memberikan keamanan finansial, tetapi mereka tetap bisa membangun beragam keterampilan demi kepuasan pribadi.
Menurut Morgan Sanner, Career Expert Gen Z dari Glassdoor dan pendiri Resume Official, tenaga kerja terkini telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan jalur karier fleksibel. Ini sebuah jalan di mana mereka dapat melompat ke peluang apa pun yang paling sesuai. Dalam jangka panjang, fleksibilitas semacam itu lebih berkelanjutan, realistis, dan sesuai dengan realitas tempat kerja saat ini.
Baca juga: Perekrut Perlu Tahu 3 Tanda Pencari Kerja Red Flags
Mari Memahami Career Minimalism yang Dilakukan oleh Gen Z
Berdasarkan Glassdoor, satu dari 10 karyawan Gen Z diperkirakan akan menjadi manajer mulai 2025. Namun, kepemimpinan atau posisi puncak bukan tujuan akhir mereka, terlebih harus bekerja 09.00–17.00 atau lebih dari itu.
Ini bukan berarti Zoomer adalah generasi malas atau kurang ambisius. Mereka menyalurkan ambisi dengan cara yang berbeda. Inilah yang disebut career minimalism. Apa maksudnya?
Career minimalisme bukan berarti mengurangi pekerjaan, melainkan tentang bersikap strategis dalam menginvestasikan energi.
Ya, pekerja muda Gen Z tidak seperti generasi baby boomer atau Gen X yang antusias menapaki jenjang karier korporat. Perbedaan lingkungan kerja mereka dengan baby boomer dan Gen X cukup signifikan. Mereka memasuki lanskap kerja yang berisi pandemi COVID-19, ketidakstabilan ekonomi dan geopolitik, PHK massal, perkembangan AI, hingga burnout, sehingga respons mereka bukanlah bekerja lebih keras atau mengejar promosi cepat.
Sebaliknya, mereka memprioritaskan keamanan dan perluasan karier daripada peningkatan posisi. Hal ini terlihat dalam survei Glassdoor Community, sebanyak 68% pekerja Gen Z mengatakan tidak akan mengejar posisi manajemen bukan karena gaji atau jabatan.
Secara garis besar, karyawan Zoomer ini mencari pekerjaan tetap yang memberikan keamanan finansial dan tidak mengejar posisi karena memberikan ketenangan pikiran. Di sisi lain, mereka bisa mengembangkan keterampilan dan/atau memiliki pekerjaan sampingan yang membuat mereka bersemangat.
Apakah mereka melakukan side hustle?
Tak dipungkiri lagi, mereka adalah generasi side hustle sejati. Bagi Gen Z, pekerjaan tetap bermanfaat untuk membayar tagihan sekaligus mendanai proyek yang menjadi renjana mereka. Namun, identitas dan kepuasan kerja datang dari usaha kewirausahaan, kegiatan kreatif, atau isu sosial yang mereka pedulikan.
Artikel selanjutnya: 5 Alasan Perusahaan Izinkan Karyawan Miliki Pekerjaan Sampingan
Pemimpin dan HR dapat Memahami 4 Poin dari Etos Kerja Gen Z
Kondisi lapangan kerja Gen Z sekompleks keadaan baby boomer. Jika generasi boomer memasuki perubahan ekonomi sangat cepat dalam kurun waktu 1960 hingga 1980-an, Gen Z menghadapi ketidakstabilan ekonomi yang berimbas pada PHK dan memikul dua hingga tiga peran tanggung jawab kerja.
Generasi pekerja Z ini telah menyaksikan generasi sebelumnya mengalami burnout karena mengejar kesuksesan di dunia korporat, sehingga mereka memilih jalan yang berbeda. Oleh karena itu, Gen Z yang telah menjadi manajer mengutamakan work-life balance, karena hal tersebut mendukung kinerja mereka yang berkelanjutan.
Bagaimana pemimpin dan profesional HR menghadapi hal tersebut? Ada empat poin yang bisa Anda ambil dari strategi mereka, yaitu:
1. Tetapkan batasan
Karyawan Gen Z mahir menetapkan batasan, sehingga mereka mampu melakukan tugas yang masuk ke dalam lingkup pekerjaan dan yang tidak. Ini akan terlihat saat tidak selalu ada imbalan untuk bekerja ekstra keras dalam peran tradisional.
Jadi, tim HR dan manajer perlu membuat batasan pekerjaan, baik dari segi waktu maupun kemampuan. Bila ingin menyerahkan proyek atau tugas di luar keterampilan mereka, sebaiknya perusahaan memberikan pelatihan serta panduan terlebih dahulu. Proses ini termasuk menyediakan ruang aman ketika mereka berbuat kesalahan dan menemukan solusinya.
Anda pun dapat mendorong mereka untuk menyelaraskan nilai pribadi terhadap nilai dan budaya perusahaan. Buka ruang diskusi jika mereka ingin membahas tentang nilai, budaya, hingga batasan pekerjaan.
2. Diversifikasi portofolio
Tren tempat kerja didorong oleh generasi muda, mereka membangun etos kerja yang sesuai dengan kondisi pasar tenaga kerja saat ini. Di mana mereka memiliki keterampilan dan sumber pendapatan di luar pekerjaan utama. Jika Anda mencari kandidat, pertimbangkan untuk melihat portofolio lain di luar pekerjaan tetap mereka. Dengan demikian, Anda dapat mencocokkan keterampilan dan pengalaman mereka dengan kebutuhan bisnis.
3. Prioritaskan kesehatan mental
Memahami career minimalism dari sudut pandang pekerja muda bukan berarti mengurangi pekerjaan atau mereka malas. Namun, mereka bersikap strategis untuk mencurahkan energi terhadap pekerjaan, karena mereka memprioritaskan kesehatan mental daripada kemajuan karier.
4. AI sebagai rekan kerja
Gen Z mencari pekerjaan pada platform atau alat berteknologi AI. Mereka pun memahami keterbatasannya dalam pekerjaan, sehingga menganggap AI sebagai rekan kerja, bukan ancaman. Sikap ini mendorong pemimpin dan karyawan senior di mana pun bidang kerjanya untuk bekerja berdampingan dengan AI.
AI tetap membutuhkan manusia untuk menjalankan dan memberikan panduan yang sesuai dengan kegiatan bisnis. Otomatisasi teknologi ini akan mengoptimalkan proses kerja secara efektif, sehingga mendukung work-life balance atau membantu mereka mewujudkan fleksibilitas kerja.
Gen Z menetapkan bahwa mereka dapat sukses secara profesional tanpa menjadikan pekerjaan sebagai seluruh identitas. Pergeseran prioritas ini mencerminkan gerakan career minimalism bukanlah tren semata, ini adalah gambaran masa depan pekerjaan bagi semua orang.

Leave a Reply