Menurut penelitian perempuan menjumpai kesenjangan karier. Bahkan di awal kehadiran mereka di dunia profesional, mereka menghadapi hambatan meskipun sangat berambisi untuk menjajaki tangga karier. Hasil penelitian juga menemukan bahwa perusahaan mengurangi komitmen terhadap kemajuan karier perempuan.
Perempuan di Tempat Kerja Hadapi Kondisi Sulit
Ambisi perempuan dalam berkarier
Women in the Workplace 2025, laporan dari Lean In dan McKinsey & Company, telah memasuki tahun ke-11. Kali ini, laporan menganalisis data dari 124 perusahaan di Amerika Serikat (AS) dan Kanada serta 9.500 karyawan untuk menilai jalur pengembangan karyawan, survei pengalaman karyawan, dan program serta kebijakan sumber daya manusia (SDM).
Walaupun laporan melibatkan karyawan di AS dan Kanada, tetapi hasilnya dapat menjadi wawasan bagi tim HR dan pemimpin semua level yang peduli dengan jalur karier karyawan. Laporan menemukan bahwa:
- 80% perempuan berambisi ingin dipromosikan ke tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan 86% laki-laki
- Pada karyawan baru, hanya 69% perempuan di awal karier menginginkan promosi dibandingkan dengan 80% laki-laki
- Pada tingkat senior, 84% perempuan memiliki ambisi dipromosikan dibandingkan dengan 92% laki-laki
CEO dan co-founder Lean In Rachel Thomas mengatakan kondisi tersebut merupakan bagian dari tren yang lebih besar dan mengkhawatirkan, karena perusahaan mulai mengurangi komitmen mereka terhadap kemajuan karier perempuan di tempat kerja. Namun, kesenjangan ambisi akan menghilang bila mereka memiliki dukungan karier, sponsor, dan peluang pengembangan diri yang sama dengan rekan pria mereka, dari karyawan tingkat pemula hingga senior.
Artikel selanjutnya: Partisipasi Perempuan Di Tempat Kerja Lebih Rendah Dari Laki-laki
Kesenjangan karier terjadi pada perempuan yang baru bekerja
Tak hanya itu saja, perempuan yang baru mulai bekerja–di bawah usia 30 tahun–berambisi ingin dipromosikan dan bercita-cita menjadi pemimpin senior dibandingkan laki-laki. Namun, mereka sering terabaikan dalam hal mendapatkan dukungan untuk mengejar peluang baru, terutama untuk menjadi manajer untuk pertama kalinya.
Kondisi tersebut dapat menunda kemajuan karier mereka selama beberapa tahun ke depan. Bahkan, hanya sepertiga dari semua manajer tingkat pemula adalah perempuan dan hanya 31% perempuan tingkat pemula yang memiliki sponsor dibandingkan dengan 45% laki-laki tingkat pemula.
“Sponsor adalah salah satu pendorong terbesar untuk kemajuan karier dan juga untuk merasa percaya diri dan didukung di tempat kerja. Dalam Women in the Workplace tahun ini, karyawan yang memiliki sponsor dua kali lebih mungkin untuk dipromosikan,” jelas Thomas.
Dengan dukungan yang lebih sedikit, perempuan akan lebih sulit memiliki kemajuan karier. Sebaliknya, ketika seseorang mendapatkan sedikit kesempatan pengembangan diri, maka hal itu akan berpengaruh terhadap optimisme dan ambisi mereka.
Perempuan di level senior menghadapi jalan karier terjal
Dukungan yang rendah terhadap kemajuan perempuan sejak dini dapat berdampak buruk seiring waktu. Hal tersebut dialami oleh perempuan di level senior, sehingga semakin menambah daftar masalah dalam kesenjangan karier.
Karyawan perempuan senior ada yang tidak menginginkan promosi. Apa alasannya? Mereka pernah dilewati dalam promosi di masa lalu dan tidak melihat jalan realistis menuju puncak karier. Mereka juga berpikir bahwa karyawan yang lebih senior mengalami kelelahan atau tidak bahagia.
Kejadian seperti itu membuat karyawan senior perempuan merasa kemajuan karier sulit dicapai, sehingga kurang termotivasi untuk mengejarnya. Jadi, mereka tidak mengambil pekerjaan tingkat tinggi yang tidak menawarkan pengembangan profesional atau fleksibilitas yang dibutuhkan.
Selain faktor dukungan, perempuan di tingkat junior dan senior, tidak memikirkan promosi karena memikul beban tanggung jawab rumah tangga dan pengasuhan. Peningkatan peran akan diimbangi dengan pekerjaan tambahan, kondisi itu menyulitkan mereka saat memiliki beban rumah tangga. Namun, menurut Thomas, hal ini lebih berkaitan dengan dukungan yang kurang dari perusahaan.
Baca juga: Hak Perempuan Di Tempat Kerja Ini Perlu HR Ketahui
Keuntungan Perusahaan Dukung Perempuan
Laporan juga menunjukkan mayoritas perusahaan memprioritaskan budaya inklusif (88%) dan keragaman (67%) sepanjang 2025. Perusahaan yang mengatakan pada program yang mendukung kemajuan karier perempuan 54% dan hanya 48% perusahaan yang mempertimbangkan kemajuan perempuan kulit berwarna di tempat kerja, hasil ini turun dibandingkan tahun lalu.
Jenis program yang mendukung perempuan antara lain:
- Sponsor formal
- pengembangan karier yang disesuaikan
- Model kerja fleksibel dan jarak jauh
Program tersebut tak hanya mendukung karier perempuan, juga bermanfaat untuk menciptakan budaya yang lebih inklusif atau mendorong mereka belajar bagaimana bekerja sama dengan orang lain.
Megan McConnell, mitra di McKinsey, menyebutkan dukungan karier yang efektif dapat dibuat secara sederhana. Misalnya, manajer melakukan percakapan dengan karyawan tentang aspirasi karier dan memberikan promosi atau proyek khusus agar karyawan memperlihatkan keterampilan dan visibilitas kepada pemimpin senior di perusahaan.
Bila dukungan kepada karyawan perempuan terus terkikis, sehingga mereka sulit berada pada posisi manajemen menengah maka dampaknya akan berkali lipat.
Salah satu faktor yang mengkhawatirkan adalah terus berlanjutnya perataan , yang dapat berdampak . Pertama, manajer mengawasi lebih banyak anggota tim, yang berarti lebih sedikit waktu dan energi untuk membantu kemajuan karier perempuan. Kedua, perempuan mungkin melihat lebih sedikit peluang untuk meningkatkan karier ke posisi manajemen menengah. Jika ada, perempuan mungkin tidak menganggap posisi kepemimpinan menarik karena tekanan mengelola lebih banyak karyawan tetapi sumber dayanya lebih sedikit.

Leave a Reply