ic AI mitos & fakta HRPods

Perhatikan 2 Poin Kolaborasi Tim HR dengan Agentic AI

Agentic AI adalah sistem artificial intelligence yang dibangun di atas teknik AI generatif dengan menggunakan large language model (LLM). Sistem ini mengambil inisiatif, membuat keputusan, belajar terus menerus, dan beroperasi dalam batasan yang telah ditentukan.

Dalam ranah HR, agentic AI menawarkan efisiensi pekerjaan berulang sehingga menghindari kesalahan yang berpengaruh terhadap reputasi perusahaan. Tim HR akan memerlukan otomatisasi pelacakan CV kandidat, mengatur jadwal wawancara, memantau kehadiran karyawan, hingga menghitung penggajian dan pemotongan pajak. 

Di balik kelebihan agentic AI, ada hal-hal yang perlu Anda perhatikan sebelum mengadopsi teknologi ini. 

Mitos Vs. Fakta tentang AI Berbasis Agen

Ada beberapa mitos di luar sana mengenai agentic AI, tetapi jika Anda dan tim memahami cara kerja AI, itu hanyalah anggapan orang yang belum pernah menggali lebih dalam tentang AI beragen.

Mitos 1

AI mengetahui segala hal. 

Fakta 

AI hanya mengenal apa (data) yang diberikan oleh manusia, sehingga dapat membuat kesalahan. AI membutuhkan pelatihan. Jika ia dilatih dengan benar, maka ia akan menjadi mitra terpercaya yang mengelola tugas operasional, mengungkap wawasan baru, atau memberi tahu tim ketika ada sesuatu yang tidak beres.

Solusi

AI berbasis agen hanya akan sebaik informasi yang diberikan kepadanya. Jadi, data yang bersih, terstruktur, dan relevan akan meningkatkan nilainya. Data yang tidak lengkap atau bias tidak hanya menyebabkan kesalahan, juga berdampak merugikan.

Mitos 2

AI menggantikan tim HR. 

Fakta 

Agentic AI adalah rekan Anda di tim HR, ia akan menandai masalah sebelum masalah tersebut memburuk. Bahkan ia menyarankan langkah selanjutnya yang mungkin belum terlihat oleh tim. Dengan kata lain, tim HR dapat berfokus pada pengembangan keterampilan, budaya perusahaan, dan jalur kepemimpinan, karena tugas yang berulang bisa ia kerjakan. 

Solusi 

AI berbasis agen melangkah lebih jauh, sejak awal ia dirancang berdasarkan ruang lingkup, prioritas, dan nilai-nilai HR.

Mitos 3

AI tidak memerlukan pelatihan.

Fakta 

AI justru membutuhkan pelatihan dan masukan terus-menerus. Ia seperti karyawan baru yang memerlukan informasi tanggung jawab, pelatihan tentang cara menyelesaikan tugas, hingga umpan balik yang cepat. 

Solusi

Mengingat fokus adalah kuncinya, maka mulailah dari hal kecil. Tentukan platform atau perangkat lunak berbasis agentic AI, lalu latih dan tempatkan ia ke dalam alur kerja operasional, mengevaluasi kinerjanya, dan menyempurnakan model berdasarkan apa yang Anda pelajari. Dengan terus mengawasi perkembangannya, Anda dan tim membantunya tumbuh dan beradaptasi seiring perubahan bisnis.

Mitos 4

AI itu mudah digunakan alias plug-and-play

Fakta 

Nyatanya, manusia tak semudah itu menggunakan AI, karena artificial intelligence tetap membutuhkan intervensi Anda, seperti integrasi, tata kelola, dan kepercayaan agar ia dapat diterapkan dalam skala besar. 

Solusi 

Perlakukan agentic AI seperti karyawan. Anda bisa memberikannya pengawas atau manajer, target kinerja, tinjauan berkala, dan tujuan yang jelas. Semakin banyak struktur yang Anda berikan, semakin banyak nilai dan kepercayaan yang akan Anda peroleh.

Artikel terkait: 6 Penggunaan Agentic AI di Lingkungan Kerja

Perhatikan 2 Hal Ini Sebelum “Merekrut” Agentic AI

Tantangan karyawan menghadapi AI

Menurut laporan Human Capital Trends Deloitte 2025, lebih dari 80% pekerja mengatakan perusahaan mereka belum menyediakan pelatihan tentang AI generatif, bahkan ketika AI terus mendefinisikan ulang cara kerjanya.

Di sisi lain, AI tidak sempurna. Ia belajar dari data yang dimasukkan oleh manusia, baik data yang berdasarkan regulasi maupun data mentah yang bisa menghasilkan bias. OECD mencatat bahwa tantangan AI di tempat kerja antara lain risiko diskriminasi, kurang transparansi, dan pengawasan lemah dalam penyelesaian tugas sehari-hari. 

Jika ingin AI bekerja dengan baik dalam praktik HR, Anda dan tim harus membangun dalam tiga area, yakni desain yang tepat, literasi data, dan pengawasan AI yang bertanggung jawab. Ini akan menjadi peran HR untuk menjalankan adalah dasar untuk:

  • Memahami dan mempertanyakan data
  • Memberikan arahan secara efektif
  • Menentukan apa yang dapat diakses dan ditindaklanjuti oleh AI
  • Mengeliminasi hal-hal yang di luar batas
  • Mendeteksi bias dan mengetahui jalur eskalasi
  • Mengetahui cara melibatkan manusia dalam proses pengambilan keputusan
Baca juga: 4 Peran HR Menurut Dave Ulrich, Masihkah Relevan?

Fondasi kuat untuk mempekerjakan agentic AI

Penelitian MIT Sloan menunjukkan kurang dari 10% perusahaan menghasilkan nilai finansial yang signifikan dari AI. Hal itu menunjukkan dampak dari integrasi sistem secara menyeluruh. 

Namun, kondisi tersebut membutuhkan fondasi yang kuat, baik dalam teknologi, HR, kebijakan, maupun penetapan tujuan. Langkah yang perlu dilakukan ialah: 

  1. Mulai menyelaraskan tujuan kepada semua pemimpin, seperti pemimpin umum, bisnis, HR, TI, dan legal, kolaborator seperti apa yang mereka inginkan dari agentic AI
  2. Menentukan strategi sumber daya manusia (SDM) yang mencakup program reskilling agar mahir menggunakan AI, siapa yang bertanggung jawab atas hasil kerja agen, membuat jejak audit, dan memastikan kejelasannya
  3. Memeriksa data internal, mengaudit alur kerja, membuat penyesuaian strategi jika terjadi kegagalan, serta sering melakukan uji coba di awal proses transformasi
  4. Mengubah model operasional untuk mengintegrasikan agen AI di setiap tingkatan, bukan hanya sebagai alat tetapi sebagai kontributor
  5. Melacak hasil kolaborasi karyawan dan agen AI, tentukan mana yang “baik” dan “tidak baik” yang harus dilakukan, berbagi hasil kepada rekan kerja, serta berikan umpan balik
  6. Menjalankan pengecekan berkala agar tetap selaras dengan tujuan perusahaan dan menyesuaikan strategi jika diperlukan

Agentic AI bukan sekadar teknologi. Ia bukan hanya teknologi pendukung untuk meningkatkan otomatisasi. Ia adalah tenaga kerja masa depan perusahaan yang berdampingan dengan karyawan manusia yang membawa cara kerja baru, harapan baru, dan banyak potensi. 

Ikuti kabar: 5 Masalah Ketenagakerjaan di Indonesia dan Solusi Kolaboratif

Tantangan bukan soal cara mengadopsi AI berbasis agen, tetapi perusahaan dan tim HR perlu memiliki tata kelola data dan pengawasan yang ketat. Tujuannya agar perusahaan memiliki akuntabilitas, lebih produktif, serta kompetitif di masa depan. 

Ini tentang manusia, proses, dan kinerja, bukan hanya alat. Mengembangkan kemampuan untuk memberikan arahan, penilaian data, dan pengawasan adalah kebutuhan perusahaan, karena hal tersebut akan menentukan siapa yang akan berhasil di lanskap baru ini dan siapa yang akan tertinggal.


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *