HRPods meningkatkan produktivitas dengan AI

5 Langkah Meningkatkan Produktivitas dengan AI

Menurut analisis Wells Fargo, dikutip dari CNBC, perusahaan besar dapat meningkatkan produktivitas dengan AI sejak peluncuran ChatGPT pada 2022. Ini dilihat dari pendapatan riil per karyawan. 

Di sisi lain, survei Intuit QuickBooks Small Business Insights terhadap 5.000 usaha kecil di AS, Kanada, Inggris, dan Australia menunjukkan bahwa 68% bisnis telah mengintegrasikan AI ke dalam operasi harian mereka, dengan sekitar dua pertiga melaporkan peningkatan produktivitas. 

Dua hal di atas bukan sebagai syarat mutlak sebuah bisnis harus menggunakan AI, tetapi ini adalah perspektif yang perlu dipertimbangkan oleh pemimpin dan tim HR untuk meningkatkan produktivitas bisnis. 

5 Langkah Meningkatkan Produktivitas dengan AI

Ethan Mollick, salah satu pakar teknologi yang menunjukkan bukti dari sebuah studi yang ia kerjakan bersama Boston Consulting Group, bahwa ada peningkatan signifikan dalam produktivitas kerja dari penggunaan AI generasi baru. Studi dari Procter & Gamble menemukan karyawan akan berkinerja baik ketika dibantu oleh AI.

1. Kembangkan keterampilan nonteknis

Kiersten Barnet, executive director New York Jobs CEO Council–yang didirikan oleh CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon dan CEO perusahaan besar lainnya–mengatakan ada beberapa hal yang ia yakini akan berhasil bagi pekerja di masa depan, yakni belajar keterampilan nonteknis secara fleksibel dan berkelanjutan

Upaya tersebut menjadi lebih penting dari sebelumnya, karena keterampilan teknis sudah bisa dilakukan oleh AI dan karyawan perlu merespons ketidakpastian masa depan dengan keterampilan nonteknis. 

Chief Talent Officer Verizon Christina Schelling pun menekankan pentingnya untuk mengembangkan keterampilan nonteknis. Keterampilan seperti empati, rasa ingin tahu, agility, dan decision making penting dalam membangun kesuksesan. Deretan keterampilan itu memiliki bobot yang lebih besar saat ini karena diperhitungkan dalam pasar kerja yang lebih kompleks di dunia AI. 

2. Pilar struktural 

Mollick menyarankan agar perusahaan membuat tiga pilar struktural agar dapat bergerak maju secara konstruktif. Pilar itu adalah mengembangkan AI dalam kepemimpinan, menciptakan laboratorium AI, dan menyebarluaskan AI kepada masyarakat luas. 

“Rekayasa prompt tidak lagi penting. Memberikan konteks kepada manusia untuk membuat keputusan itu penting. Anda perlu mengumpulkan pengguna AI dan mengambil ide dari kerumunan dan mengubahnya menjadi produk yang langsung digunakan oleh mereka.”

Baca juga: Masa Depan HR: Menggabungkan Manusia dan Agentic AI

3. Berlangganan AI

Mollick juga menyarankan perusahaan untuk berlangganan alat AI seperti Claude dari Anthropic, GPT dari OpenAI, atau Gemini dari Google untuk menggunakannya dalam pekerjaan sehari-hari sekaligus mempelajari kelebihan dan kekurangannya. 

“Biarkan semua orang berkreasi dan beberapa orang akan langsung mahir. Begitu Anda memperkenalkan mereka pada berbagai alat, Anda dapat menemukan kasus penggunaannya.”

Pemimpin perusahaan pun perlu menggunakan AI serta mendorong karyawan agar memanfaatkan alat AI secara optimal. Dengan demikian, mereka akan menjadi laboratorium serta pusat inovasi yang berguna bagi penyelesaian pekerjaan. Jadi, perusahaan tidak bisa menunggu jawaban atau membiarkan tim IT untuk mengambil alih persoalan teknologi ini. 

4. Libatkan karyawan

Ini adalah contoh perusahaan yang meningkatkan produktivitas dengan AI. Perusahaan telekomunikasi Verizon melibatkan karyawan dalam proses pengumpulan data internal (data tentang pekerjaan dan karier) maupun eksternal (data yang berhubungan dengan hal pribadi). Mereka diminta oleh tim HR untuk mengubah dan memodifikasi data internal jika tidak akurat. Dari 5% kurang menjadi hampir 100% kumpulan data lengkap.

Hasilnya, karyawan dapat menjabarkan pekerjaan serta jalur karier yang diinginkan hingga 10 tahun ke depan. Mereka akan mendapatkan rekomendasi pekerjaan yang sesuai keterampilan dan saran program pelatihan dan sertifikasi. Meski awalnya mereka ragu-ragu tentang penggabungan data eksternal dan internal, tetapi hal itu dianggap sebagai nilai tambah dan tingkat pengunduran diri berkurang 1% pada kelompok percontohan.

Kunjungi: 3 Alasan Manajer Harus Peduli dengan Pengembangan Karier Karyawan 

5. Kerja sama dengan lembaga pendidikan

Untuk memenuhi tenaga kerja yang melek teknologi terkini, perusahaan perlu menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan. Hal itu dilakukan oleh pihak Barnet. Perusahaan yang dipimpinnya bekerja sama dengan perguruan tinggi dan sekolah menengah di New York City untuk mempersiapkan lulusan terbaru siap  menghadapi pekerjaan yang membutuhkan keterampilan AI. Langkah ini juga berguna untuk membangun jalur karier yang solid dan meningkatkan potensi penghasilan. 

Langkah meningkatkan produktivitas dengan AI bukan tanpa masalah. Pasalnya, ada kemungkinan bahwa penggunaan AI berdampak terhadap pengurangan karyawan atau penghentian proses rekrutmen. Menurut Mollick, kekhawatiran tersebut tidak bisa dihindari. Masalah itu akan dihadapi oleh pemimpin dan berpotensi mereka mengeksekusi dengan buruk. 


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *